Ngoet Fest di Santa Sea Bikin Geger, Abdul Kohar Sentil Pemkot Sukabumi

Anggota DPRD Kota Sukabumi Komisi III, Abdul Kohar (ist)

BERITAUSUKABUMI.COM – Polemik kegiatan Ngoet Fest x SantaSea di Kota Sukabumi dinilai tidak cukup diselesaikan hanya dengan menyalahkan penyelenggara maupun membatasi ruang kreativitas anak muda.

Anggota DPRD Kota Sukabumi dari Komisi III, Abdul Kohar, justru melihat persoalan tersebut sebagai momentum bagi pemerintah untuk membenahi aturan dan pola pengawasan terhadap kegiatan kreativitas generasi muda.

Menurut Abdul Kohar, persoalan yang mencuat setelah kegiatan di SantaSea bukan sekadar soal sebuah acara yang viral dan menuai protes.

Bacaan Lainnya

Di baliknya terdapat persoalan yang lebih mendasar, yakni belum jelasnya aturan main bagi anak muda dalam mengekspresikan kreativitas mereka.

“Manusia muda, di mana pun ia berada, selalu mencari jalan untuk menyatakan dirinya. Ia ingin didengar, ingin diberi tempat, ingin karyanya punya arti,” kata Abdul Kohar dikonfirmasi BERITAUSUKABUMI.COM, usai pertemuan dengan pihak terkait di Gedung DPRD Kota Sukabumi pada Jumat (25/9/2026).

Ia menyebut Ngoet Fest sebagai salah satu ruang bagi anak-anak muda Sukabumi untuk berkumpul, bermain musik, dan mengekspresikan kreativitas.

Namun, menurutnya, pemerintah tidak boleh membiarkan anak muda berjalan tanpa panduan yang jelas.

“Sudah bertahun-tahun mereka mencoba, dan sudah bertahun-tahun pula negara belum sungguh-sungguh hadir untuk mereka: tanpa ruang yang layak, tanpa aturan yang jelas, tanpa penjelasan yang cukup tentang batas mana yang boleh dan tidak,” ujarnya.

Abdul Kohar mengatakan dirinya telah duduk bersama dengan panitia Ngoet Fest, Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) serta manajemen SantaSea untuk mendengarkan penjelasan dari berbagai pihak.

Pertemuan tersebut, kata dia, bukan untuk mencari pihak yang harus dipermalukan, melainkan untuk memahami persoalan secara utuh.

“Saya mendengar, bukan untuk mencari siapa yang harus dipermalukan, tapi untuk mengerti duduk perkaranya,” katanya.

Dari pertemuan tersebut, Abdul Kohar mengaku menemukan persoalan yang menurutnya jauh lebih kompleks daripada sekadar acara yang dianggap berlebihan.

Ia menilai keinginan anak muda untuk berkarya terkadang dapat dimanfaatkan oleh kepentingan yang lebih besar tanpa mereka menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam situasi tersebut.

“Yang saya temukan adalah gambaran lama yang berulang: keinginan anak muda untuk berkarya, yang oleh sebagian pihak dijadikan alat untuk kepentingan yang lebih besar, tanpa mereka sendiri sadar sedang dipakai,” katanya.

Karena itu, ia menilai tidak tepat jika seluruh persoalan kemudian diarahkan kepada anak muda.

Menurut Abdul Kohar, yang perlu dibenahi adalah aturan mainnya. Pemerintah harus memberikan batas yang jelas sehingga kreativitas tetap dapat tumbuh tanpa berbenturan dengan norma, ketertiban, maupun kepentingan masyarakat sekitar.

“Maka saya pikir, kita keliru kalau menuding anak muda sebagai biang masalah. Yang sebenarnya kosong adalah aturan mainnya,” tegasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *