BERITAUSUKABUMI.COM –Gunung Kekenceng di Kabupaten Sukabumi kembali menjadi perhatian publik setelah riset sejarah terbaru mengungkap perannya dalam masa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kawasan perbukitan yang berada di Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireunghas ini diduga pernah menjadi basis strategis laskar pejuang pada periode 1946–1947.
Temuan tersebut mendorong penguatan usulan agar Gunung Kekenceng ditetapkan sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB), mengingat nilai historisnya yang berkaitan langsung dengan perjuangan rakyat Sukabumi melawan pasukan Belanda.
Penelitian Arsip hingga Cerita Lisan Warga
Penelusuran sejarah dilakukan di Kampung Pojok dan area Gunung Kekenceng, dipimpin oleh sejarawan sekaligus Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Prof. Reiza D. Dienaputra.
Tim melakukan kajian arsip, survei lapangan, serta menghimpun keterangan lisan dari masyarakat setempat. Hasil riset tersebut kemudian dituangkan dalam laporan penelitian setebal 80 halaman yang diterbitkan pada Desember 2025.

Dalam laporan itu disebutkan, Gunung Kekenceng memiliki posisi strategis pada masa perang kemerdekaan, terutama dalam mendukung pergerakan pasukan laskar di wilayah Sukabumi bagian selatan dan sekitarnya.
Posisi Strategis di Ketinggian 999 Meter
Berdasarkan peta Sekutu tahun 1945 yang diterbitkan oleh Survey Production Center, Gunung Kekenceng memiliki ketinggian sekitar 999 meter di atas permukaan laut.
Topografi yang relatif tinggi dan berada di wilayah tenggara Kecamatan Cireunghas dinilai ideal sebagai titik pengamatan, pertahanan, sekaligus pusat koordinasi operasi militer.
Dokumen sejarah menyebutkan, kawasan ini mulai tercatat dalam arsip pada 1984. Namun jejak aktivitas perjuangan telah muncul dalam dokumen militer era revolusi.
Salah satu referensi penting adalah laporan “Verslag Batalion Sabilillah” tertanggal 22 Januari 1947, yang menyebut Gunung Kekenceng pernah difungsikan sebagai markas operasional Batalion Laskar Barisan Sabilillah dalam menghadapi agresi Belanda.
Laporan lain bertanggal 2 Januari 1947 juga mengindikasikan bahwa sejak akhir 1946, Barisan Sabilillah telah menjadikan Gunung Kekenceng sebagai pusat markas.
Dari lokasi tersebut, sejumlah kompi dikirim untuk menjalankan operasi ke berbagai wilayah sekitar, termasuk Kabandungan.
Dalam penelusuran sejarah lokal, nama Pak Adang dari Laskar Sabilillah disebut sebagai salah satu saksi sejarah. Ia diketahui merupakan bagian dari laskar di bawah komando Enoh Surahman, yang saat itu menjabat Ketua Laskar Sabilillah. Informasi lisan ini menjadi bagian penting dalam memperkaya rekonstruksi sejarah perjuangan di wilayah tersebut.
Struktur Markas Belum Teridentifikasi
Meski indikasi historis cukup kuat, tim peneliti mengakui belum menemukan bukti fisik terkait struktur bangunan markas yang pernah digunakan oleh Barisan Sabilillah di Gunung Kekenceng.
Hingga akhir penelitian, belum teridentifikasi sumber tertulis tambahan, artefak, maupun dokumentasi visual yang dapat merekonstruksi bentuk fisik markas tersebut secara detail.
Kendati demikian, temuan arsip dan kesaksian lisan dinilai cukup menjadi dasar awal untuk mendorong kajian lanjutan serta perlindungan kawasan sebagai situs bersejarah.
Dengan potensi nilai sejarah yang signifikan, Gunung Kekenceng Sukabumi kini berada di persimpangan antara pelestarian dan pengembangan.
Penetapan sebagai ODCB diharapkan dapat menjadi langkah awal menjaga memori kolektif perjuangan rakyat Sukabumi dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Sumber : Teddy Ginanjar (Pegiat Pelestari Sejarah Gunung Kekenceng)





