BERITAUSUKABUMI.COM-Hingga kini, tercatat lima peserta latihan dasar kemiliteran (Latsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dan Kampung Nelayan meninggal dunia saat mengikuti pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan Kementerian Pertahanan.
Salah satu korban adalah Novia Rahmadhani Sihotang, peserta asal Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Novia diketahui mengikuti program latihan sejak 13 Juni 2026 dengan durasi pendidikan sekitar satu setengah bulan.
Pihak keluarga mengungkapkan Novia berangkat dalam kondisi sehat. Namun, selama mengikuti latihan, keluarga menerima kabar bahwa almarhumah mengalami gangguan kesehatan hingga sesak napas sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Atas kejadian tersebut, keluarga berharap pemerintah dan instansi terkait memberikan penjelasan serta bertanggung jawab atas insiden yang terjadi.
Mereka juga meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan latihan dasar militer bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih.
Kementerian Pertahanan menyatakan hingga saat ini terdapat lima peserta yang meninggal dunia selama mengikuti program latihan dasar militer di sejumlah satuan pendidikan TNI.
Kelima peserta tersebut yakni Anisa Muyassaroh yang mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan dan Kejuruan Resimen Induk Daerah Militer VI Mulawarman, Balikpapan.
Korban kedua adalah Yonanda Muhammad Taufiq yang menjalani pendidikan di Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklatad) Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.
Korban ketiga, Novia Rahmadhani Sihotang, meninggal dunia setelah mengikuti latihan di Satuan Pendidikan Pusbahasa Kodiklatau, Jakarta.
Sementara korban keempat adalah Rifki Renaldi Gunawan yang menjalani latihan di Satdik Yon Para Ko 465 Jakarta. Adapun korban kelima, Nola Dya Sari, mengikuti pelatihan di Satdik C Kalimantan.
Menanggapi peristiwa tersebut, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman memastikan pemerintah tengah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan latihan dasar militer bagi peserta Program Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan.
Meski demikian, Dudung menyebut hingga kini pemerintah belum menemukan indikasi adanya kelalaian dalam penyelenggaraan program.
Ia juga menegaskan latihan dasar militer bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih tetap akan dilanjutkan.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, meminta pemerintah menghentikan pelaksanaan latihan militer tersebut.
Menurutnya, pembekalan militer tidak memiliki relevansi dengan tugas dan fungsi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih sehingga perlu dievaluasi secara mendasar.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan menegaskan seluruh pelaksanaan latihan telah mengikuti prosedur yang berlaku.
Seluruh peserta, menurut Kementerian Pertahanan, juga telah menjalani dan dinyatakan lolos pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti pendidikan.
SUMBER : BERBAGAI SUMBER





