BERITAUSUKABUMI.COM – Ribuan masyarakat dan wisatawan memadati kawasan Pantai Palangpang, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, dalam perhelatan Syukuran Hari Nelayan Ciwaru ke-69 dan Festival Seni Budaya 2026, Jumat (17/7/2026).
Tradisi yang telah berlangsung hampir tujuh dekade itu kembali digelar sebagai bentuk rasa syukur masyarakat nelayan atas hasil laut yang menjadi sumber penghidupan sekaligus upaya melestarikan budaya pesisir yang menjadi identitas masyarakat Sukabumi.
Mengusung tema “Ngagungkeun Nu Kawasa, Ngajaga Budaya, Ngamumule Nelayan”, acara berlangsung meriah di kawasan UNESCO Global Geopark Ciletuh-Palabuhanratu dengan menghadirkan berbagai atraksi seni budaya serta ribuan pengunjung dari berbagai daerah.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Dewi Asmara, unsur Forkopimda, DPRD, HNSI, tokoh masyarakat, pelaku wisata, serta para nelayan.
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Dewi Asmara mengatakan jika tradisi Hari Nelayan Ciwaru memiliki nilai strategis, bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai penggerak sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat pesisir.
“Tradisi seperti Hari Nelayan Ciwaru harus terus dijaga dan dikembangkan. Budaya pesisir merupakan aset bangsa yang mampu memperkuat identitas daerah sekaligus menjadi daya tarik wisata yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Dewi Asmara.
Menurutnya, kekayaan budaya yang dipadukan dengan potensi alam Geopark Ciletuh-Palabuhanratu menjadi modal besar bagi Kabupaten Sukabumi untuk memperkuat sektor pariwisata berkelanjutan.
Sementara itu, Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas saat membuka kegiatan mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kelestarian laut dan budaya sebagai warisan bagi generasi mendatang.
“Syukuran Hari Nelayan bukan hanya bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga momentum memperkuat kebersamaan masyarakat dalam menjaga laut dan melestarikan budaya pesisir,” katanya.
Festival semakin semarak dengan penampilan beragam kesenian tradisional Sunda seperti Tari Jaipong, Tari Jipeng, Kuda Lumping, Wayang Golek, hingga pertunjukan seni lokal yang memukau ribuan pengunjung.
Selain menjadi ajang pelestarian budaya, kegiatan ini juga memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.
Ratusan pelaku UMKM, pedagang kuliner, hingga pelaku ekonomi kreatif merasakan peningkatan pendapatan seiring tingginya kunjungan wisatawan selama festival berlangsung.





