Prestasi bergengsi ini diraih melalui inovasi media pembelajaran berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bernama COIX.
Karya ini dikembangkan oleh kedua guru SMP Negeri 1 Sukaraja untuk membantu siswa memahami materi kloroplas dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) secara lebih interaktif dan menarik.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaen Sukabumi, Herdiawan Waryadi mengatakan, Rahayu Utami merupakan guru IPA, sedangkan Bu Adilla Irawan adalah guru Matematika.
Keduanya kata Herdiawan mengembangkan COIX di bawah supervisi Dr. Abdul Aziz Rahman, M.Pd., Ketua Tim Kerja Pengembangan Bahasa dan Sastra Daerah atau PBSD.
“Kita tentu sangat bangga, nama Kabupaten Sukabumi bisa berpartisipasi di kancah pendidikan internasional,”kata Herdiawan kepada BERITAUSUKABUMI.COM, Minggu (1/11/2026).

Herdiawan berharap prestasi Rahayu Utami dan Adilla Irawan yang telah diukir keduanya diharapkan menjadi pemantik semangat bagi guru-guru lainnya di Kabupaten Sukabumi untuk terus berinovasi dan berani membawa hasil karyanya ke kompetisi nasional maupun internasional.
Untuk diketahui, COIX bukan sekadar media pembelajaran berbasis teknologi. Nama tersebut diambil dari nama latin tanaman hanjeli, yakni Coix lacryma-jobi, yang merupakan salah satu potensi lokal dan identitas khas Kabupaten Sukabumi.
Melalui integrasi teknologi AI, COIX menghadirkan fitur interaktif yang memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan seputar materi kloroplas dan memperoleh respons secara langsung.
Inovasi ini dirancang untuk mendorong siswa lebih aktif, mandiri, sekaligus meningkatkan rasa ingin tahu selama proses pembelajaran.
Dijelaskan Herdiawan keberhasilan meraih medali emas di Korea Selatan bukan hasil kerja instan. COIX dikembangkan selama satu semester melalui serangkaian tahapan, mulai dari perencanaan, pengembangan produk, penerapan dalam pembelajaran, analisis hasil, hingga penyusunan laporan dalam bentuk artikel ilmiah.
“Sebelum berlaga di IMSCC, inovasi tersebut terlebih dahulu diuji dalam kompetisi ISTEMCC yang diselenggarakan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung,”jelasnya.
Hari ini dan kedepan harap Herdiawan, dengan kreativitas, kolaborasi, serta keberanian memanfaatkan perkembangan teknologi, guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga mampu melahirkan karya yang memberikan nilai tambah bagi dunia pendidikan.
“Guru perlu terus mengembangkan kreativitas, melakukan eksperimen, memanfaatkan teknologi, dan menghasilkan karya yang berdampak terhadap peningkatan kompetensi peserta didik,”tandas Herdiawan.





