Membandingkan Program Udunan Online Achmad Fahmi dan Wakaf Dana Abadi Ayep Zaki

Kota Sukabumi terus menjadi laboratorium inovasi sosial digital dengan pendekatan khas masing-masing pemimpinnya. Seperti dua program unggulan dari dua periode kepemimpinan terakhir yang mencerminkan evolusi peran Pemerintah Kota Sukabumi dalam memberdayakan masyarakat. Program Udunan Online yang dipelopori oleh mantan Walikota Sukabumi Achmad Fahmi, dan Program QRIS Wakaf Dana Abadi yang kini digerakkan oleh Walikota Sukabumi Ayep Zaki. Keduanya sama-sama bertujuan membangun kesejahteraan masyarakat melalui partisipasi publik, pendekatan, filosofi. Kedua program ini lahir dari konteks dan kebutuhan yang berbeda, namun memiliki satu semangat yang sama yakni mengajak masyarakat menjadi bagian dari perubahan. Program Udunan Online muncul sebagai bentuk solidaritas spontan masyarakat dalam menghadapi krisis sosial secara cepat dan terbuka. Sedangkan, QRIS Wakaf Dana Abadi adalah pendekatan strategis dan berkelanjutan.
Walikota Sukabumi Ayep Zaki dan mantan Walikota Sukabumi, Achmad Fahmi (adamarrazi)

BERITAUSUKABUMI.COM-Besarnya potensi penggumpulan dana di luar APBD yang berasal dari dana partipasi publik di Kota Sukabumi jadi sasaran tiap kepala daerah.

Dengan pendekatan khas kepemimpinan masing-masing, dalam dua kepemipinan terakhir ini potensi menghimpun dana yang dari masyarakat pernah dilakukan mantan Walikota Sukabumi Achmad Fahmi, dan sekarang oleh Walikota Sukabumi, Ayep Zaki.

Program Udunan Online yang dipelopori oleh mantan Walikota Sukabumi Achmad Fahmi, dan Program QRIS Wakaf Dana Abadi yang kini digerakkan oleh Walikota Sukabumi Ayep Zaki.

Bacaan Lainnya

Judulnya sama, kedua program ini pun lahir dari konteks dan kebutuhan yang sama. Keduanya sama-sama bertujuan membangun kesejahteraan masyarakat melalui partisipasi publik dalam membantu menyelesaikan persoalan-persoalan, sosial, ekonomi dan keagamaan di masyarakat yang tidak bisa senantias selama dapat dicover dari sumber APBD.

Diolah dari berbagai sumber terpercaya, berikut perbandingan antara kedua program Program Udunan Online yang dipelopori oleh Achmad Fahmi, dan Program QRIS Wakaf Dana Abadi yang kini digerakkan  Ayep Zaki.

Program Udunan Online Achmad Fahmi

Diluncurkan pada 27 Desember 2019, Udunan Online hadir sebagai bentuk kesetiakawanan sosial digital. Achmad Fahmi menggagas program ini sebagai respons atas keterbatasan APBD Kota Sukabumi.

Saat itu APBD Kota Sukabumi hanya Rp1,3 triliun. Hal ini yang membuat pemerintah Kota Sukabumi tidak bisa bergerak cepat dalam menangani kasus-kasus sosial, seperti rumah roboh, biaya pengobatan, dan lainnya.

Program ini mengajak masyarakat berpartisipasi secara langsung lewat donasi sukarela platform udunanonline.com. Dalam mengalang dana, program Udunan Online menggunakan platform berbasis website melalui platform udunanonline.com yang memudahkan siapa pun berdonasi kapan dan dari mana saja.

Program Udunan Online sifatnya fleksibel. Donasi di Program Udunan Online bisa diberikan dalam jumlah berapa pun.

Dalam pengelolaanya Program Udunan Online dikelola oleh sebuah Forum bukan oleh sebuah yayasan dengan prinsip dasar Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh dan Sharing Happiness.

Donasi Program Udunan Online berasal dari publik, tidak berbasis agama atau syariah. Program Udunan Online disebut-sebut lebih inklusif.

Penggunaannya dapat digunakan untuk berbagai keperluan mendesak, seperti perbaikan rumah, pendidikan, kesehatan.

Di Program Udunan Online Pemerintah Kota Sukabumi menjadi fasilitator dan pengelola platform. Kerjanya, mengajak warga menjadi bagian dari solusi melalui jejaring solidaritas digital.

Data dari BAPPEDA Kota Sukabumi, sepanjang tahun 2022 lalu tercatat sebanyak 1.915 transaksi sosial melalui platform Udunan Online, dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 343,4 juta untuk membantu 16 kasus.

Sebelumnya, pada tahun 2021, platform yang sama mencatat 1.591 transaksi sosial dengan perolehan dana sebesar Rp 362,3 juta yang disalurkan untuk 17 kasus.

Program QRIS Wakaf Dana Abadi Ayep Zaki

Kemudian program QRIS Wakaf Dana Abadi. Program ini muncul dari visi besar Ayep Zaki yang ingin menjadikan Sukabumi sebagai Kota Wakaf.

Ia melihat wakaf bukan hanya sebagai ibadah, tetapi sebagai instrumen ekonomi strategis yang dapat membiayai pendidikan, UMKM, hingga infrastruktur keagamaan.

Lewat kerja sama dengan Lembaga Wakaf Doa Bangsa (LW Doa Bangsa), wakaf uang bisa dilakukan dengan mudah melalui QRIS, kode pembayaran digital yang dapat diakses lewat aplikasi e-wallet atau mobile banking.

Dengan menggunakan teknologi “QRIS”, standar nasional kode pembayaran digital dari Bank Indonesia. Hanya dengan memindai QR code melalui dompet digital siapapun bisa berwakaf dengan uang.

Sumber Dana QRIS Wakaf Dana Abadi bersifat wakaf, tidak boleh ditarik kembali dan harus digunakan untuk tujuan Program ini diawasi langsung oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Dalam pelaksanaannya, Pemkot Sukabumi bertindak sebagai katalisator dan pendukung gerakan wakaf yang bekerjasama dengan Lembaga Wakaf Doa Bangsa Yayasan Pembina Pendidikan Doa Bangsa (YPPDB).

Hingga pertengahan April 2025, program Wakaf Dana Abadi yang diinisiasi oleh Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, berhasil mengumpulkan dana lebih dari Rp1 miliar.

Dalam pernyataannya pada 10 Maret 2025, Ayep Zaki menyampaikan bahwa total dana yang telah terkumpul mencapai Rp1.018.000.000. Dana tersebut direncanakan akan segera dialokasikan untuk mendukung berbagai kebutuhan masyarakat.

Kontroversi Program Wakaf Dana Abadi Ayep Zaki

Dibanding program Udununan Online yang tidak begitu banyak menyita riak riuh perhatian publik. Program Wakaf Dana Abadi yang diluncurkan oleh Pemerintah Kota Sukabumi di bawah kepemimpinan Walikota Ayep Zaki belakangan menjadi sorotan publik.

Kendati program ini bertujuan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam wakaf melalui berbagai kanal, termasuk QRIS, dengan harapan menjadikan Sukabumi sebagai “Kota Wakaf.”

Namun, inisiatif ini menuai kontroversi ketika publik mengetahui bahwa yayasan yang ditunjuk sebagai pengelola dana. Yayasan Pembina Pendidikan Doa Bangsa (YPPDB) didirikan oleh Ayep Zaki sendiri.

Hal ini menimbulkan dugaan konflik kepentingan karena adanya hubungan langsung antara pejabat publik dan lembaga penerima manfaat.

Kritik keras datang dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sukabumi Raya.

Mereka menggelar aksi protes dan menuntut transparansi dalam pengelolaan dana wakaf tersebut. Menurut mereka, kerja sama antara pemerintah dan yayasan pribadi berpotensi menyimpang dari prinsip akuntabilitas publik.

Menanggapi hal ini, DPRD Kota Sukabumi menyampaikan empat catatan penting dan merekomendasikan agar pengumpulan dana dihentikan sementara.

Langkah ini dimaksudkan untuk memberi waktu bagi evaluasi mendalam atas mekanisme kerja sama dan pelaporan keuangan.

Sementara itu, Ayep Zaki membantah adanya penyelewengan dan menegaskan bahwa semua proses pengelolaan dilakukan sesuai aturan.

Ia juga menyebut pentingnya peningkatan literasi masyarakat tentang wakaf agar tidak terjadi kesalahpahaman terkait program ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *