BERITAUSUKABUMI.COM-Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memutuskan membekukan bantuan dana desa di Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi.
Keputusan ini diambil usai meninggalnya Raya (3 tahun), bocah malang yang kisah hidupnya yang saat ini mengundang keprihatinan publik.
Pernyataan Dedi yang disampaikan melalui akun TikTok langsung viral dan ditonton jutaan kali. Dalam video tersebut, ia menegaskan bahwa kematian Raya adalah potret kegagalan pemerintah dalam melindungi warganya.
“Hari ini kita punya derita seorang anak bernama Raya, berusia tiga tahun, berasal dari Kabupaten Sukabumi. Ibunya ODGJ, bapaknya sakit TBC, dan anak itu tiap hari hidup di kolong rumah. Ia meninggal di rumah sakit dengan seluruh cacing keluar dari mulut dan hidungnya. Betapa kita gagal, betapa kita lalai,” ujar Dedi dengan suara bergetar, Selasa (19/8/2025).
Dedi juga menyinggung lemahnya peran perangkat desa hingga RT yang dinilainya gagal menunjukkan empati. Ia menyoroti birokrasi yang sibuk mengurus anggaran, tetapi melupakan sisi kemanusiaan.
“Kenapa perangkat birokrasi yang tersusun sampai tingkat RT tidak bisa membangun empati? Semua orang sibuk bicara keuangan, tapi lupa bahwa di balik anggaran ada rasa dan cinta,” tegasnya.
Menurut Dedi, tragedi yang menimpa Raya bukan sekadar masalah kemiskinan, melainkan cerminan hilangnya sensitivitas pemerintah lokal terhadap penderitaan warganya.
Sebagai langkah tegas, Dedi menyatakan akan menunda pencairan dana desa bagi Desa Cianaga. Ia menilai desa tersebut tidak mampu menjalankan kewajiban utamanya, yaitu melindungi dan mengurus masyarakatnya.
Keputusan tersebut langsung menuai perdebatan di media sosial. Sebagian besar warganet mendukung sikap Dedi dan menyebut kebijakan itu sebagai tamparan keras bagi pejabat desa yang lalai.
“Kasus Raya bukan musibah biasa, ini tragedi kemanusiaan yang membuka wajah asli birokrasi kita,” ungkap Dedi.
Diberitakan sebelumnya, seorang balita berusia tiga tahun bernama Raya, warga Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan. Tubuhnya dipenuhi cacing saat terakhir kali diperiksa tim medis.
Peristiwa yang terjadi pada Senin (18/8/2025) itu mengejutkan publik dan menimbulkan kritik terhadap lemahnya layanan kesehatan bagi masyarakat miskin.
Keluarga korban mengaku tidak memiliki BPJS maupun dokumen kependudukan yang lengkap.
Sebelum meninggal, Raya sempat dibawa ke klinik dan dokter anak, namun hanya didiagnosis mengalami gangguan paru-paru.
“Dokternya bilang TB. Kami kaget ketika setelah meninggal ditemukan banyak cacing di tubuhnya,” ujar Sarah (25 tahun), bibi korban.
Endah (30), ibu kandung korban, mengatakan anaknya kerap bermain di tanah dan tidak pernah dibawa ke puskesmas.
“Kalau sakit cuma dimandiin air hangat atau dikompres daun singkong,” ucapnya.
Kasus ini menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas program kesehatan pemerintah, termasuk posyandu, layanan gizi, hingga jaminan BPJS.





