BERITAUSUKABUMI.COM – Ribuan warga pengunjung dari berbagai wilayah dan masyarakat adat sorak sorai memadati Kampung Kasepuhan Gelar Alam, Kabupaten Sukabumi pada Perayaan Seren Taun ke-657.
Tradisi tahunan ini, yang menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Kasepuhan Adat Banten Kidul, menarik perhatian luas dari masyarakat lokal atau warga luar daerah. Mereka antusias mengikuti jalannya upacara ” Ngadiukeun Pare “. Upacara ada sebagai bentuk penghormatan atas hasil panen dan harmoni dengan alam.
Di pusat kegiatan adat, Imah Gede, prosesi utama “Ngadiukeun Pare”—yaitu pengangkatan dan penyimpanan padi ke Leuit Sijimat—berlangsung dengan khidmat. Ritual ini, yang dipimpin oleh Abah Ugih Sugriana Rakasiwi selaku Kasepuhan adat. Upacara ini melambangkan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki bumi.
Sebagai puncak rangkaian acara, Ngadiukeun Pare bukan hanya seremoni sederhana, melainkan representasi keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan kekuatan ilahi dalam filosofi Sunda Wiwitan yang masih lestari di komunitas ini.
Sejak dini hari, udara dipenuhi irama kesenian tradisional Sunda yang meriah, termasuk penampilan debus penuh kekuatan, dog-dog lojor dengan dentuman drum panjang, alunan angklung yang merdu, buhun sebagai tarian ritual, serta parade rengkong di mana peserta menggendong ikat padi di bahu sambil berirama khas.
Momen paling mengharukan terjadi saat anak-anak ikut serta dalam rengkong, menunjukkan komitmen generasi muda untuk melestarikan warisan leluhur sejak usia dini.
Banyak pengunjung terpesona oleh keunikan ini, tak henti-hentinya mengabadikan setiap detik dengan kamera, seolah menjadi saksi bisu kelestarian budaya di tengah arus modernisasi.
Hadir sebagai tamu kehormatan, Bupati Sukabumi Aseap Jafar, menyampaikan dukungan penuh terhadap pelestarian tradisi ini.
“Alhamdulillah, saya baru saja menyaksikan Seren Taun ke-657 yang begitu penuh makna. Ini bukan sekadar ritual, tapi upaya nyata menjaga identitas budaya lokal agar tak tergerus oleh pengaruh eksternal,” ujarnya.
Menurut Asyap, Kasepuhan Adat Banten Kidul, yang mencakup 522 kelompok masyarakat adat di wilayah selatan Banten dan Sukabumi, merupakan harta tak ternilai bagi daerah ini, baik sebagai fondasi budaya maupun potensi pariwisata.
Pemerintah daerah, lanjut Asjap, berkomitmen untuk mendukung inisiatif serupa di kampung adat seperti Kasepuhan Gelar Alam.
“Insya Allah, kami akan terus membina kegiatan ini sebagai warisan nenek moyang yang dirawat bersama. Kasepuhan Banten Kidul telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda, sehingga seluruh elemen masyarakat harus berpartisipasi menjaga keaslian, nilai, dan filosofinya,” ucap Bupati.
Ia menekankan bahwa tradisi ini mencerminkan jati diri bangsa dan kearifan lokal yang luar biasa, yang harus dijaga agar tetap relevan. Seren Taun ke-657 tahun ini lebih dari sekadar syukuran atas panen, tetapi menjadi momentum memperkuat pelestarian budaya Sunda di Sukabumi.
Dengan sejarah ratusan tahun, acara ini turut mengangkat posisi kabupaten sebagai destinasi wisata adat yang kaya akan nilai harmoni alam dan manusia, menarik wisatawan domestik maupun internasional.**





