Ketua BAZNAS Kabupaten Sukabumi Usul Jalan Cicantayan-Cikembar Diberi Nama Jalan KH. Ahmad Sanusi

Salah satu ruas Jalan Cicantayan-Bojong Kembar (googlemap)

BERITAUSUKABUMI.COM-Ketua BAZNAS Kabupaten Sukabumi, Unang Sudarma, mengusulkan penamaan salah satu ruas jalan di Kabupaten Sukabumi dengan nama Jalan KH. Ahmad Sanusi.

Penamaan jalan yang dimaksud adalah ruas jalan Cicantayan Kecamatan Cicantayan, tepatnya dari Cikukulu hingga Bojong Cikembar Kecamatan Cikembar Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

“Tahun ini saya mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk menetapkan nama jalan Cicantayan (dari Cikukulu–Bojong Cikembar) dengan nama baru yaitu Jalan KH. Ahmad Sanusi, sebagai salah satu wujud penghormatan kepada pahlawan kemerdekaan asal Cicantayan Kabupaten Sukabumi,” ujar Unang Sudarma kepada beritausukabumi.com, Sabtu (5/4/2025).

Bacaan Lainnya

Usulan ini kata Unang Sudarma disampaikan dalam rangka peringatan Haul Mama KH. Ahmad Sanusi tahun 2025 ini dan daerah Cicantayan jadi tanah atau kampung kelahiran KH. Ahmad Sanusi tepatnya di  18 September 1888 lampau.

Lebih dari itu pengusulan ini sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada KH. Ahmad Sanusi, seorang ulama besar dan pahlawan kemerdekaan yang berasal dari Cicantayan, Kabupaten Sukabumi.

“Penamaan jalan ini diharapkan menjadi simbol penghargaan sekaligus pengingat bagi generasi muda akan perjuangan beliau. Kami berharap usulan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak agar segera dapat direalisasikan,”terang Unang Sudarma.

Unang Sudarma juga berharap, dengan usulan ini, masyarakat diharapkan dapat terus mengenang dan meneladani semangat perjuangan KH. Ahmad Sanusi dalam kehidupan berbangsa dan beragama.

 

KH Ahmad Sanusi juga

KH Ahmad Sanusi: Ulama Visioner dan Pahlawan dari Sukabumi

KH Ahmad Sanusi merupakan sosok penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya dari tanah Sunda. Lahir pada 18 September 1888 di Kampung Cantayan, Sukabumi, beliau dikenal sebagai ulama yang memiliki semangat dakwah dan nasionalisme yang tinggi. Sejak usia muda, ia telah menunjukkan kecerdasannya, bahkan mampu menghafal Al-Qur’an ketika usianya baru menginjak 12 tahun.

Perjalanan Pendidikan dan Spirit Keilmuan

Dibesarkan dalam lingkungan pesantren, Ahmad Sanusi belajar langsung dari ayahnya, KH Abdurrahim, yang juga seorang ulama dan pimpinan pesantren.

Setelah menikah di usia 20 tahun, ia melanjutkan pendidikannya ke tanah suci Mekkah untuk memperdalam ilmu agama Islam.

Di sana, ia berguru kepada para ulama terkemuka, memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman keislaman.

Setelah kembali ke tanah air, Ahmad Sanusi mendirikan Pondok Pesantren Syamsul ‘Ulum di Gunungpuyuh, Sukabumi.

Pesantren ini kelak menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang berpengaruh di Jawa Barat. Ia juga aktif menulis dan berdakwah, menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat dan berkemajuan.

Kontribusi dalam Perjuangan Kemerdekaan

Tak hanya di bidang keagamaan, KH Ahmad Sanusi juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Ia turut serta dalam membentuk organisasi Persatuan Ummat Islam (PUI) bersama KH Abdul Halim.

Melalui organisasi ini, ia mendorong umat Islam untuk turut berperan dalam membebaskan bangsa dari penjajahan, lewat pendidikan, dakwah, dan perjuangan sosial-politik.

Puncak perannya dalam perjuangan nasional ditunjukkan saat ia ditunjuk sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Dalam forum inilah dasar negara Indonesia mulai dirumuskan. KH Ahmad Sanusi menjadi satu dari sedikit tokoh ulama yang memberikan masukan berharga mengenai posisi agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pengakuan sebagai Pahlawan Nasional

Atas jasa-jasanya yang besar dalam bidang pendidikan, dakwah, dan perjuangan kemerdekaan, pemerintah Republik Indonesia memberikan penghargaan tertinggi kepada KH Ahmad Sanusi berupa gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2022. Gelar ini menjadi bentuk penghormatan atas dedikasinya yang tak ternilai bagi bangsa Indonesia.

Warisan dan Inspirasi

KH Ahmad Sanusi bukan hanya tokoh sejarah, melainkan juga simbol integrasi antara keislaman dan nasionalisme.

Melalui pesantren yang ia dirikan, generasi demi generasi terus mendapatkan pendidikan yang berpijak pada nilai-nilai agama dan cinta tanah air.

Warisannya masih hidup hingga kini tidak hanya di Sukabumi, tetapi juga di hati masyarakat Indonesia yang terus mengingatnya sebagai ulama pejuang yang membela kemerdekaan dengan ilmu, iman, dan tindakan nyata.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *