Lima Fakta Dibalik Kematian Tragis Raya, Balita yang Meninggal dengan Tubuh Dipenuhi Cacing

Kematian tragis Raya (3), balita asal Sukabumi, meninggal dunia dengan tubuh dipenuhi cacing. Fakta medis, kronologi, kondisi keluarga, hingga tanggapan pemerintah mengungkap lemahnya layanan kesehatan dan sanitasi pedesaan.
Almarhum Raya saat menjalani pemeriksaan di RSUD R.Syamsudin SH Kota Sukabumi (tangkapanlayar)

BERITAUSUKABUMI.COMKematian tragis Raya (3), balita asal Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, menggemparkan masyarakat. Bocah malang itu menghembuskan napas terakhir dengan kondisi tubuh dipenuhi cacing, sebuah kenyataan yang menyingkap lemahnya sanitasi, kesehatan, dan perlindungan sosial di pedesaan.

Kronologi Masuk Rumah Sakit

Pada 13 Juli 2025 malam lalu, Raya dilarikan ke IGD RSUD R. Syamsudin SH Kota Sukabumi dalam kondisi kritis. Tubuhnya lemah, tidak sadar, dan mengalami syok akibat dehidrasi berat.

Beberapa saat setelah mendapat perawatan darurat, tim medis dibuat terkejut saat cacing hidup keluar dari hidungnya.

Bacaan Lainnya

Hasil pemeriksaan menunjukkan Raya mengalami askariasis akut, infeksi serius akibat cacing gelang (Ascaris lumbricoides).

Kondisi yang sudah terlambat ditangani membuat perawatan medis tidak mampu menyelamatkan nyawanya. Raya dinyatakan meninggal dunia pada 22 Juli 2025 pukul 14.24 WIB.

Infestasi Cacing dalam Jumlah Luar Biasa

Hasil pemeriksaan lanjutan mengungkapkan kondisi yang sangat parah. Raya menderita heavy worm burden atau infestasi cacing dalam jumlah ekstrem.

Ratusan cacing keluar dari hidung, anus, hingga alat kelaminnya. Berat total cacing yang berhasil dikeluarkan mencapai sekitar 1 kilogram.

Lebih mengejutkan, hasil CT-Scan menunjukkan cacing dan telurnya sudah masuk ke bagian otak, memperparah kerusakan organ vital hingga membuat nyawa Raya tak tertolong.

Lingkungan dan Kondisi Keluarga

Raya tinggal di rumah panggung sederhana dengan lantai tanah yang juga difungsikan sebagai kandang ayam. Ia kerap bermain tanpa alas kaki, sehingga rentan tertular cacing.

Faktor keluarga ikut memperburuk keadaan. Sang ayah, Udin, menderita TBC, sementara ibunya, Endah, disebut mengalami gangguan kejiwaan. Keduanya jarang membawa Raya ke fasilitas kesehatan dan lebih sering mengandalkan pengobatan tradisional.

Tragisnya lagi, keluarga ini tidak memiliki dokumen kependudukan maupun BPJS Kesehatan, sehingga akses pelayanan medis sangat terbatas.

Upaya relawan untuk membantu administrasi pun terhambat proses birokrasi, membuat penanganan kesehatan semakin terlambat.

Penjelasan Medis Mengapa Infeksi Cacing Bisa Mematikan

Dokter menjelaskan bahwa cacing gelang mampu menyerap nutrisi dari tubuh inangnya, menyebabkan malnutrisi, anemia, dan gangguan tumbuh kembang.

Jika jumlahnya ribuan, cacing dapat menggumpal di usus, mengakibatkan sumbatan, muntah hebat, bahkan peradangan.

Dalam kasus ekstrem, larva cacing bisa bermigrasi ke paru-paru atau otak, sebagaimana yang dialami Raya, hingga akhirnya merenggut nyawanya.

Kondisi ini diperparah dengan sanitasi buruk, kebersihan minim, serta tidak adanya program pemberian obat cacing secara rutin.

Gubernur Dedi Mulyadi Beri Sanksi Dana Desa

Kasus kematian Raya mendapat perhatian serius dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia menilai ada unsur kelalaian dari aparat desa dan petugas kesehatan karena posyandu tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Dedi bahkan menyatakan akan memberi sanksi kepada perangkat desa hingga kader PKK yang lalai dalam menjalankan fungsi pengawasan kesehatan warga.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *