BERITAUSUKABUMI.COM-Suasana tenang di Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, mendadak berubah sejak Februari 2025.
Ketegangan mulai muncul setelah sebuah rumah warga yang selama ini dikenal sebagai bangunan bekas pabrik jagung, mendadak dijadikan tempat ibadah. Puncaknya, warga membubarkan kegiatan di rumah tersebut dan diduga terjadi perusakan pada Jumat, 27 Juni 2025.
Kronologi kejadian ini bermula pada 17 Februari 2025, ketika Weddy, adik dari pemilik rumah bernama Maria Veronica Ninna, mulai menggelar kegiatan keagamaan secara rutin di rumah tersebut.
Rumah itu dulunya sempat digunakan sebagai pabrik pengolahan jagung, namun sudah lama tidak difungsikan dan terlihat seperti rumah biasa. Tidak ada papan nama, tidak ada simbol keagamaan. Warga pun tak curiga apa pun.
Namun semua berubah saat 30 April 2025, warga mendapati sebuah salib besar berdiri di taman belakang rumah. Kemunculan simbol tersebut menjadi titik awal keresahan.
Video pemasangan salib itu menyebar luas di grup-grup WhatsApp warga. Suara mulai berbisik-bisik. “Ini rumah ibadah?” tanya warga, heran. Karena selama ini, rumah tersebut tak pernah diketahui sebagai tempat peribadatan.
“Kami kaget saat lihat videonya. Warga jadi bertanya-tanya. Ini rumah atau gereja?” cerita Hendra, Ketua RT 004/001 Kampung Tangkil, saat ditemui sejumlah jurnalis pada Senin (30/6/2025).
Tak berhenti di sana, ketegangan memuncak pada 7 Juni 2025. Pagi-pagi buta, sekitar subuh, warga mendengar suara nyanyian rohani dan doa-doa yang diputar lewat pengeras suara dari dalam rumah tersebut. Jumlah jemaat yang hadir hari itu disebut mencapai sekitar 130 orang.
“Warga kami baru pulang dari masjid, eh malah dengar suara nyanyian keras dari rumah itu. Jelas mengganggu, apalagi tanpa pemberitahuan. Saya sebagai RT juga tidak pernah diberi tahu kalau rumah itu dijadikan tempat ibadah.”” ujar Hendra.
Pihak desa pun bergerak. Kepala Desa Tangkil, Ijang Sihabudin, mengakui bahwa situasi ini membuat warga merasa tak nyaman. Mereka merasa “kecolongan”, sebab sejak awal rumah itu tidak memiliki tanda-tanda bahwa akan digunakan untuk kegiatan keagamaan.
“Kami sudah tegur, kami mediasi, tapi kegiatannya tetap lanjut. Warga makin gelisah,” kata Ijang.
Menurutnya, persoalan bukan pada bentuk ibadah atau agamanya, melainkan kurangnya komunikasi dan transparansi kepada lingkungan sekitar.
“Apalagi ini bukan rumah biasa. Dulu pabrik, lalu kosong, dan tiba-tiba ramai orang ibadah. Ya warga bingung dan bertanya-tanya.”
Puncak dari keresahan warga terjadi pada 27 Juni 2025. Hari itu, kegiatan ibadah kembali berlangsung, namun kali ini warga tak tinggal diam.
Mereka datang beramai-ramai ke lokasi. Suasana memanas. Ada yang menegur, ada pula yang mengangkat suara. Dalam situasi penuh emosi itu, diduga terjadi perusakan fasilitas di dalam rumah.
Belum ada laporan resmi soal kerusakan, namun pihak desa dan kepolisian disebut sudah turun ke lokasi untuk meredam situasi.
Pemerintah Desa Tangkil kini tengah berkoordinasi dengan aparat keamanan dan lembaga keagamaan guna mencegah konflik meluas.
“Kami ingin ini selesai dengan damai. Jangan sampai ada gesekan yang lebih besar. Semua pihak harus bisa menahan diri,” tutur Kepala Desa Ijang.
Hingga berita ini ditulis, rumah singgah tersebut sudah tidak lagi digunakan untuk kegiatan ibadah. Pihak keluarga pemilik rumah belum memberikan pernyataan resmi.
Sementara itu, warga berharap ada kejelasan soal status rumah tersebut, apakah akan tetap difungsikan sebagai tempat ibadah atau dikembalikan seperti semula.
Satu hal yang pasti, kisah ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak: bahwa dialog, keterbukaan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai lokal adalah fondasi utama dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman.





