BERITAUSUKABUMI.COM-Pembangunan proyek Tol Bocimi Seksi III diduga kuat jadi penyebab banjir setinggi sekitar 50 sentimeter di Kampung Tipar, Desa Cibolangkaler, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi
Data sementara yang diperoleh, akibatnya luapaan banjir tersebut, sedikitnya sekira 5 sampai 7 rumah warga mengalami kerusakan.
Terparah, sejumlah fasilitas di kompleks Yayasan Perguruan atau pondok pesantren Al-Masthuriyah juga terendam, termasuk ruang kelas, kantor, dan laboratorium komputer.
Banjir ini merupakan kali pertama yang melanda komplek Yayasan Perguruan atau pondok pesantren Al-Masthuriyah, sesudah adanya proyek Jalan Tol Bogor Ciawi Sukabumi (Bocimi) Seksi III, tepatnya Exit Tol Cibolang.
Sampai saat ini, civitas Almasthuriyah, warga bersama petugas terkait masih melakukan pembersihan genangan air, lumpur yang masuk ke sejumlah ruangan.
Koordinator Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menyampaikan banjir tersebut diduga diperparah oleh proyek pembangunan Jalan Tol Bocimi Seksi III. Proyek itu ditengarai mempersempit aliran air di sekitar lokasi.
“Dugaan sementara penyebabnya adalah adanya proyek jalan tol yang mempersempit jalur aliran air,” ujar Daeng saat dikonfirmasi, Jumat (12/9/2025).
Tidak ada laporan korban jiwa ataupun luka, namun banjir menyebabkan kerusakan pada fasilitas pendidikan dan rumah warga.
Sejumlah warga sekitar mendesak agar pemerintah daerah bersama pihak kontraktor tol segera melakukan pemeriksaan teknis.
Mereka khawatir jika tidak ada penanganan serius, banjir serupa bisa kembali terjadi saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
“Saluran air harus dibersihkan dan dinormalisasi. Jangan sampai proyek tol malah merugikan warga,” kata salah seorang warga Cibolang Kaler, Ruslan Fauzi kepada BERITAUSUKABUMI.COM.
Foto-foto pascabanjir yang beredar di media sosial menunjukkan pintu dan jendela ruang kelas rusak serta sejumlah peralatan pesantren tidak dapat digunakan.
Hingga kini, pihak pengelola proyek tol Bocimi maupun instansi terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai dampak konstruksi terhadap aliran air di kawasan Cibolangkaler.
Warga berharap BPBD, Dinas Pekerjaan Umum, serta pihak kontraktor dapat duduk bersama melakukan investigasi menyeluruh.
Langkah rekayasa teknis, seperti pembuatan saluran baru atau pelebaran drainase, dinilai mendesak agar musibah serupa tidak kembali terulang.
BPBD Kabupaten Sukabumi menyatakan akan terus memantau kondisi lapangan serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mitigasi dan penanganan pascabencana.





