Wabup Sukabumi Andreas Terkesima, di Seren Taun Kasepuhan Sinar Resmi Masih Tersimpan Beras Warisan 90 Tahun Lalu

Wakil Bupati Sukabumi, H. Andreas, dibuat kagum saat menyaksikan langsung padi yang tersimpan rapi di dalam leuit (lumbung adat) Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Cisolok. Padi itu bukan sembarangan—usianya mencapai lebih dari 90 tahun dan masih tetap utuh!
Puncak acara ditandai dengan prosesi Ngampih Pare ka Leuit, yakni upacara simbolik memasukkan ikat padi hasil panen ke dalam lumbung adat (Leuit) Si Jimat. Prosesi yang sarat nilai spiritual ini dipimpin langsung oleh Sesepuh Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Abah Asep Nugraha.

BERITAUSUKABUMI.COM Wakil Bupati Sukabumi, H. Andreas, dibuat kagum saat menyaksikan langsung padi yang tersimpan rapi di dalam leuit (lumbung adat) Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Cisolok. Padi itu bukan sembarangan usianya mencapai lebih dari 90 tahun dan masih tetap utuh.

Andreas mengungkapkan rasa kekagumannya ketika menghadiri ritual adat Seren Taun ke-446 yang digelar secara khidmat di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Minggu (13/7/2025).

“Ini luar biasa. Padi ini usianya lebih dari sembilan dekade, tapi masih utuh di dalam leuit. Ini menunjukkan betapa hebatnya kearifan lokal dalam menjaga ketahanan pangan secara alami dan berkelanjutan,” kata Andreas.

Bacaan Lainnya

Puncak upacara Seren Taun ditandai dengan prosesi Ngampih Pare ka Leuit, yaitu ritual simbolis memasukkan ikatan padi hasil panen ke Leuit Si Jimat—lumbung adat suci yang dipercaya sebagai tempat penyimpanan paling sakral.

Dalam kesempatan itu, Wabup Andreas menegaskan pentingnya pelestarian tradisi sebagai kekuatan sejati bangsa Indonesia.

“Mempertahankan tradisi bukan hanya menjaga budaya, tetapi juga membangun fondasi ketahanan nasional. Tradisi mengikat kita dalam persatuan di tengah keragaman,” ujarnya.

Ia menyebut model ketahanan pangan berbasis adat seperti di Kasepuhan Sinar Resmi merupakan implementasi nyata dari Asta Cita Presiden RI, khususnya dalam hal kemandirian pangan dan pelestarian budaya.

“Kampung adat ini bisa menjadi role model ketahanan pangan nasional. Pemerintah daerah siap mendukung infrastruktur dan pengembangan kawasan adat agar manfaatnya semakin luas,” tegas Andreas.

Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak melupakan akar budaya mereka.

“Mari kita rawat warisan leluhur ini sebagai identitas dan kekuatan bangsa. Semoga kepemimpinan kami menjadi berkah bagi Kabupaten Sukabumi dan seluruh masyarakatnya,” tambahnya.

Sementara itu, Abah Asep Nugraha menegaskan bahwa Seren Taun bukan sekadar perayaan adat, tetapi bentuk rasa syukur dan doa bersama untuk masa depan yang penuh berkah.

“Seren Taun adalah harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ini bukan sekadar warisan, tapi juga pesan agar kita hidup selaras dengan nilai-nilai leluhur,” jelasnya.

Ia berharap di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi ini tetap bisa dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Kami yakin, selama nilai adat dihormati dan dijalankan, kehidupan akan tetap seimbang. Seren Taun adalah pondasi spiritual yang menjaga kita tetap membumi,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *