Ritual Sedekah Bumi Menjaga Warisan Leluhur Dipelukan Alam Kabandungan Sukabumi

Mentari belum tinggi saat riuh suara gamelan dan aroma kemenyan menyambut pagi di Kampung C ilodor, Desa Cipeteuy Kecamatan Kabandungan Kabupaten Sukabumi. Di tengah rindangnya pepohonan dan dinginnya udara pegunungan, ratusan warga berkumpul dalam sebuah perhelatan sacral Bernama Sedekah Bumi. Sebuah ritual warisan leluhur yang kembali digelar pada Minggu, 20 April 2025.
Tarian budaya di rangkaian acara Sedekah Bumi. Sebuah ritual warisan leluhur yang kembali digelar pada Minggu, 20 April 2025.

BERITAUSUKABUMI.COM-Mentari belum tinggi saat riuh suara gamelan dan aroma kemenyan menyambut pagi di Kampung C ilodor, Desa Cipeteuy Kecamatan Kabandungan Kabupaten Sukabumi.

Di tengah rindangnya pepohonan dan dinginnya udara pegunungan, ratusan warga berkumpul dalam sebuah perhelatan sacral Bernama Sedekah Bumi. Sebuah ritual warisan leluhur yang kembali digelar pada Minggu, 20 April 2025.

Mengusung tema penuh makna “Gunung Teu Menang Dilebur, Sagara Teu Menang Dirusak, Buyut Teu Menang Dirempak”, kegiatan ini bukan sekadar seremoni.  Sedekah Bumi adalah seruan agar manusia tak melupakan akar, alam, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bacaan Lainnya

Di antara deretan tamu yang hadir, tampak Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, H. Ade Suryaman, duduk khidmat bersama unsur Forkopimda dan Forkopimcam.

“Tradisi ini adalah momentum penting untuk merefleksikan hubungan manusia dengan alam. Kita patut bersyukur atas karunia bumi yang menopang kehidupan dan ekonomi masyarakat di sini,”tuturnya dalam sambutan yang menyentuh.

Kabandungan, lanjutnya, adalah wilayah dengan potensi alam yang luar biasa. Dari hamparan kebun hortikultura yang membentang, hasil panen bisa mencapai 15 ton per hari, menyuplai berbagai daerah. Angka yang bukan hanya menjadi kebanggaan, tapi juga bukti nyata betapa suburnya tanah yang diwariskan para leluhur.

Tak hanya pertanian, Sekda juga melihat masa depan Kabandungan sebagai destinasi agrowisata unggulan, sejajar dengan kawasan Puncak Bogor.

Pemerintah daerah pun telah menyerahkan 843 sertifikat hak penggunaan tanah, sebagai bentuk perhatian terhadap kepastian hukum dan kemandirian masyarakat.

“Kami akan terus mendorong pengembangan wilayah ini sebagai sentra agroindustri hortikultura. Bersama IPB, kita juga sedang menjajaki berbagai program strategis untuk mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kualitas pertanian,” papar H. Ade, penuh optimisme.

Kepala Desa Cipeteuy, Purnama Wijaya, menyampaikan rasa syukur atas perjuangan panjang masyarakat dalam memperoleh hak atas tanah mereka. Ia menyebut Sedekah Bumi sebagai momen yang mengikat masa lalu dan masa kini dalam satu nafas syukur.

“Mudah-mudahan perjuangan para pemimpin dan sesepuh terdahulu dibalas kebaikan oleh Allah SWT. Saya hanya meneruskan perjuangan yang sudah dirintis para pendahulu,”*ucapnya.

Sedekah Bumi di Kampung Cilodor bukan hanya tentang ritual. Ia adalah napas kolektif masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam.

Ia adalah nyanyian tentang kesetiaan pada tanah kelahiran, dan janji bahwa warisan leluhur akan tetap dijaga, dilestarikan, dan diwariskan lagi  dengan rasa syukur, dan sepenuh cinta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *