BERITAUSUKABUMI.COM-Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri, Komjen Wahyu Widada, mengungkapkan bahwa algoritma dalam sistem judi online telah dirancang sedemikian rupa agar para pemain sulit untuk menang. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, belum lama ini.
Komjen Wahyu menjelaskan, modus operandi para pelaku judi online kini semakin canggih. Sistem algoritma yang digunakan dalam platform tersebut dikendalikan oleh pihak pengelola untuk menciptakan ilusi peluang menang, namun secara sistematis membuat pemain terus mengalami kekalahan.
“Algoritmanya sudah diatur sedemikian rupa, sehingga pemain hanya diberi harapan menang sesaat. Setelah itu, mereka terus dikalahkan agar terus bermain dan mengeluarkan uang,” ujar Wahyu.
Menurutnya, ini adalah bagian dari strategi psikologis yang digunakan sindikat judi online untuk mempertahankan ketergantungan para pemain, terutama mereka yang telah kecanduan.
Polri sendiri terus mengintensifkan pemberantasan praktik judi online. Sejak awal tahun ini, ribuan situs telah diblokir, dan sejumlah operator serta pengelola berhasil diamankan.
Namun, Wahyu menegaskan bahwa penindakan ini membutuhkan kerja sama lintas sektor, termasuk dengan kementerian komunikasi dan teknologi serta penyedia layanan internet.
Lebih lanjut, ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak tergoda dengan iming-iming keuntungan instan dari praktik judi online. Selain merugikan secara finansial, aktivitas tersebut juga melanggar hukum dan berpotensi menimbulkan dampak sosial yang luas.
“Kami minta masyarakat waspada. Jangan sampai menjadi korban dari sistem yang memang didesain untuk merugikan,” tambahnya.
Sementara itu, Polri juga berencana memperkuat literasi digital kepada masyarakat sebagai bagian dari strategi preventif dalam melawan praktik perjudian daring yang terus berkembang pesat di Indonesia.
sumber : tempo





