Kisah Pejuang Sukabumi Uwa Atma Sujatman Dinyatakan Gugur, Muncul Kembali di Malam Tahlilan

Nama Aa atau Uwa Atma Sujatman mungkin tak banyak tercatat dalam buku sejarah nasional. Namun bagi masyarakat Sukaraja dan keluarga besar Yayasan Pendidikan Perguruan Poskab Sapu Jagat Pusat, beliau adalah sosok pejuang, guru, sekaligus sesepuh yang jejak perjuangannya begitu membekas.
Aa atau Uwa Atma Sujatman (sumber:istimewa)

BERITAUSUKABUMI.COM-Nama Aa atau Uwa Atma Sujatman mungkin tak banyak tercatat dalam buku sejarah nasional. Namun bagi masyarakat Sukaraja dan keluarga besar Yayasan Pendidikan Perguruan Poskab Sapu Jagat Pusat, beliau adalah sosok pejuang, guru, sekaligus sesepuh yang jejak perjuangannya begitu membekas.

Uwa Atma Sujatman dikenal sebagai salah satu murid sekaligus rekan Almarhum Mahaguru Mama KH Anwarullah. Ia menjadi bagian penting dalam pengembangan Silat Dzohir di lingkungan Yayasan Pendidikan Poskab Sapu Jagat Thoreqat Anfasiyah.

Terlibat Langsung dalam Pertempuran Bojong Kokosan

Secara historis, Pertempuran Bojong Kokosan terjadi pada Desember 1945 di wilayah Sukabumi dan menjadi salah satu pertempuran besar antara pejuang Republik Indonesia melawan konvoi tentara Sekutu Inggris/Gurkha, yang saat itu merupakan pemenang Perang Dunia II.

Bacaan Lainnya

Dalam peristiwa tersebut, Uwa Atma Sujatman yang saat itu masih berusia belasan tahun tergabung dalam Pasukan Hizbullah. Ia ikut bertempur langsung menghadapi gempuran peluru dan ledakan granat musuh.

Beliau pernah berkisah, banyak rekan seperjuangannya gugur di sampingnya. Di tengah derasnya tembakan, pandangannya mendadak gelap. Ia tak lagi mengingat apa pun dan mengira dirinya telah gugur di medan perang.

Namun takdir berkata lain.

Dinyatakan Gugur, Pulang Saat Tahlilan Hari Ketujuh

Keluarga yang tak kunjung mendapat kabar selama sepekan menyatakan dirinya gugur. Bahkan tahlilan hari ketujuh telah digelar di kediamannya di Babakan Sempur, Sukaraja.

Secara mengejutkan, pada malam tahlilan ketujuh itu, beliau pulang dalam kondisi lusuh dan lemah setelah berjalan kaki selama kurang lebih satu minggu dari Bojong Kokosan melewati hutan untuk menghindari patroli musuh.

Dalam kesaksiannya, setelah siuman ia mendapati dirinya berada di atas pohon pinang (jambe). Ia tidak mengetahui bagaimana bisa berada di tempat setinggi itu.

Situasi di sekeliling sudah sunyi, menyisakan bekas pertempuran yang dahsyat. Dengan kondisi tubuh lemah, ia turun dan memilih berjalan menyusuri hutan hingga akhirnya tiba di rumah tepat pada hari ketujuh dirinya ditahlilkan.

Kisah tersebut hingga kini menjadi cerita yang terus dikenang keluarga dan murid-muridnya.

Diburu Belanda dan Terlibat Pergolakan 1966

Pada masa revolusi, Uwa Atma Sujatman juga dikenal sebagai sosok yang berani. Ia disebut sebagai satu-satunya anggota pasukan yang berani mengeksekusi seorang tentara KNIL yang dianggap berkhianat di wilayah Babakan Sempur, Sukaraja. Peristiwa itu membuat namanya masuk daftar pencarian tentara Belanda di Sukabumi kala itu.

Memasuki periode 1966, ia kembali terlibat dalam pergolakan politik nasional. Dalam berbagai penuturan, beliau disebut menjadi bagian dari kelompok yang menindak anggota PKI di wilayah tersebut pada masa konflik ideologi pasca-G30S.

Bergabung dengan Poskab Sapu Jagat dan Berdakwah

Sekitar tahun 1980-an, Almarhum Mahaguru KH Anwarullah mengajaknya bergabung untuk mengembangkan dan mensyiarkan Perguruan Poskab Sapu Jagat Thoreqat Anfasiyah. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai guru Silat Dzohir sekaligus ahli dzikir dengan suara yang lantang dan menggugah.

Beliau dikenal disiplin dalam ibadah. Keluarga menyebut, ia jarang meninggalkan sajadah sebelum waktu Isya tiba. Sosoknya sederhana, tidak banyak bicara, namun tegas dalam prinsip amar ma’ruf nahi munkar.

Ciri khas lainnya adalah golok kecil berwarna merah yang selalu terselip di pinggangnya ke mana pun ia pergi—simbol kesiapsiagaan seorang jawara Sunda pada zamannya.

Wafat Tahun 2006, Warisan Spirit Perjuangan Tetap Hidup

Uwa Atma Sujatman wafat pada tahun 2006. Bagi keluarga dan murid-muridnya, termasuk penulis yang mendapatkan ijazah ajaran Sapu Jagat sejak awal 1990-an, beliau bukan hanya pejuang kemerdekaan, tetapi juga guru kehidupan.

Jejaknya menjadi bagian dari sejarah lokal Sukabumi—tentang keberanian, kesetiaan pada republik, serta keteguhan dalam menjaga nilai agama dan budaya.

sumber : Doni Purnamawan (Humas Poskab SPJ)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *