Jembatan ‘Sedekah’ di Pantai Karang Hawu Simbol Kepedulian atau Ancaman Alam?

Sebuah struktur beton lengkung berdiri mencolok di antara karang-karang alami Pantai Karang Hawu, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Di bagian atasnya terukir tulisan "Alor Mandung" berwarna emas yang menarik perhatian para pengunjung.
Sebuah struktur beton lengkung berdiri mencolok di antara karang-karang alami Pantai Karang Hawu, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Di bagian atasnya terukir tulisan "Alor Mandung" berwarna emas yang menarik perhatian para pengunjung.(dedeapon)

BERITAUSUKABUMI.COMSebuah struktur beton melengkung kini berdiri megah di tengah bentang karang alami Pantai Karang Hawu, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Di puncaknya, tersemat tulisan mencolok berwarna emas Alor Mandung—sebuah nama yang kini jadi perbincangan hangat di dunia maya.

Jembatan ini diyakini menghubungkan dua titik spiritual yang melegenda di kawasan tersebut Sumur Tujuh dan Karang Ampar.

Bacaan Lainnya

Selain nilai mistisnya, kedua lokasi ini dikenal dengan pesona eksotis yang memikat wisatawan. Namun, alih-alih menuai pujian, kehadiran jembatan justru memicu kontroversi.

Dibangun oleh Peziarah Dermawan

Berdasarkan prasasti di lokasi, pembangunan jembatan ini digagas oleh dua tokoh asal Sidoarjo, Jawa Timur: R.A. Bunda Ida Roffi dan R. Eko Condro Wijoyo.

Proyek tersebut dimulai pada awal Januari 2025 dan rampung menjelang Lebaran—kurang dari tiga bulan sejak peletakan batu pertama.

Inisiatif ini merupakan bentuk sedekah dari seorang peziarah yang dikenal kerap mengunjungi situs-situs sakral. Tidak melibatkan donatur atau instansi resmi, seluruh biaya dikabarkan berasal dari dana pribadi.

Viral di Medsos, Warganet Terbelah

Keberadaan jembatan Alor Mandung sontak viral setelah foto-fotonya tersebar di media sosial. Namun, tanggapan warganet terbagi dua.

Ada yang mengapresiasi langkah pribadi ini sebagai bentuk kecintaan pada budaya dan wisata lokal. Namun tak sedikit pula yang mempertanyakan legalitas dan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

“Kalau ini dibangun tanpa izin dan kajian lingkungan, bisa jadi bumerang. Apalagi lokasinya dianggap sakral,” tulis seorang pengguna Instagram.

Beberapa netizen juga mengkhawatirkan kemungkinan kerusakan pada ekosistem batu karang yang unik dan rapuh. Di sisi lain, sejumlah suara menyebut bahwa pembangunan ini bisa menjadi daya tarik baru yang mendongkrak pariwisata lokal.

Suara dari Tokoh Adat

Asep Suhendrik (45 tahun), tokoh adat sekaligus pengelola kawasan Sumur Tujuh, memberikan klarifikasi. Menurutnya, pembangunan dilakukan dengan niat baik oleh seseorang yang dikenal sebagai dermawan dan peziarah rutin.

“Beliau ingin meninggalkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan peziarah lainnya. Semua dikerjakan dengan biaya pribadi, tanpa sponsor dari pihak luar,” ungkap Asep.

Ia juga menegaskan bahwa pembangunan dipantau agar tetap selaras dengan kearifan lokal. “Kami ikut mengawasi agar tidak melenceng dari nilai-nilai yang dijunjung di sini,” tambahnya.

Masih Jadi Perdebatan

Meski sudah berdiri kokoh, jembatan ini tetap menyisakan pertanyaan: apakah niat baik cukup untuk membenarkan pembangunan di zona sensitif seperti ini? Atau justru ini contoh kepedulian nyata terhadap situs budaya yang selama ini kurang tersentuh?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *