Bentrokan Berdarah Rebutan Lahan Parkir di Cikole Sukabumi, Lima Juru Parkir Terluka

Bentrokan berdarah yang diduga dipicu sengketa pengelolaan lahan parkir terjadi di Jalan R.E. Martadinata, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, pada Senin (9/3/2026). Peristiwa tersebut sempat terekam warga yang melintas dan videonya beredar di media sosial.
Aksi bentrok akibat rebutan lahan parkir di Jalan R.E. Martadinata, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, pada Senin (9/3/2026). (tangkapanlayar)

BERITAUSUKABUMI.COM – Bentrokan berdarah yang diduga dipicu sengketa pengelolaan lahan parkir terjadi di Jalan R.E. Martadinata, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, pada Senin (9/3/2026). Peristiwa tersebut sempat terekam warga yang melintas dan videonya beredar di media sosial.

Informasi yang dihimpun, insiden itu melibatkan dua kelompok juru parkir yang berselisih terkait pengelolaan area parkir di kawasan tersebut.

Akibat bentrokan tersebut, sedikitnya lima orang dilaporkan mengalami luka akibat sabetan benda tajam maupun benda tumpul.

Bacaan Lainnya

Salah satu perwakilan kelompok yang berseteru dari Iyong, yakni Muhamad Farhan (32), menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan aksi penyerangan sepihak seperti yang sempat beredar di masyarakat.

“Bukan penyerangan. Di pihak kami juga ada korban luka,” ujar Farhan saat memberikan keterangan kepada wartawan, Rabu (11/3/2026).

Menurut Farhan, konflik bermula dari upaya komunikasi terkait pengelolaan lahan parkir. Pada malam sebelum kejadian, pihaknya mendatangi seseorang bernama Boim untuk membicarakan kemungkinan pengelolaan parkir secara bersama.

Namun saat itu Boim tidak berada di lokasi, sehingga pembicaraan dilakukan dengan adiknya. Dalam pertemuan tersebut, pihak Iyong menyampaikan keinginan untuk mengelola lahan parkir secara bersama dan disebut mendapat respons positif.

“Kami datang malam sebelumnya untuk bertemu Boim, tapi yang bersangkutan tidak ada. Akhirnya kami berbicara dengan adiknya dan menyampaikan keinginan untuk mengelola parkir bersama. Responsnya saat itu cukup baik,” jelas Farhan.

Situasi berubah keesokan harinya ketika Boim disebut datang ke kawasan Dewi Sartika sambil membawa besi dan berteriak mencari Iyong. Mendengar hal itu, pihak Iyong kemudian mendatangi lokasi untuk menanyakan maksud kedatangan tersebut.

Namun pertemuan yang awalnya dimaksudkan untuk klarifikasi justru memicu cekcok yang berujung bentrokan.

“Karena Boim mencari Iyong, kami datang untuk menanyakan ada apa. Tapi di lokasi terjadi cekcok yang akhirnya memicu bentrokan,” katanya.

Dalam kejadian itu, dua orang dari kelompok Iyong dilaporkan mengalami luka, yakni RS (33) dan NEP (27). Keduanya mengalami luka di bagian tangan dan kaki.

Farhan juga membantah isu yang menyebut adanya penggunaan senjata tajam dalam bentrokan tersebut. Menurutnya, dari rekaman video yang beredar tidak terlihat adanya pihak yang membawa senjata tajam.

“Tidak ada yang membawa sajam. Kalau dilihat di video yang beredar juga tidak ada yang memegang senjata tajam,” tegasnya.

Usai kejadian, pihaknya langsung melaporkan insiden tersebut ke Polsek Cikole pada malam yang sama sekitar pukul 20.00 WIB. Selain itu, komunikasi dengan pihak Boim juga disebut telah dilakukan guna membuka peluang penyelesaian melalui jalur mediasi.

“Kami sudah membuat laporan ke Polsek Cikole dan juga mencoba berkomunikasi dengan pihak Boim agar masalah ini bisa diselesaikan secara damai,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *