BERITAUSUKABUMI.COM-Tidak hanya sudah tersohor sebagai kota Mochi, Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, punya mimpi baru dengan melontarkan gagasan untuk menjadikan Sukabumi sebagai Kota Tempe di masa mendatang.
Ayep Zaki menegaskan, Sukabumi tidak boleh tertinggal dari daerah lain yang telah memiliki identitas kuat, seperti Bogor, Yogyakarta, maupun Malang.
“Sukabumi tidak boleh kalah dengan daerah lain. Ke depan, kita akan mendeklarasikan Sukabumi sebagai IKon Kota Tempe,” ujar Ayep Zaki saat memberikan sambutan pada kegiatan Pekan Kopi Sukabumi (PAKANSI) 2025 yang digelar di halaman Kantor Pegadaian Kota Sukabumi, Sabtu (27/12/2025).
Gagasan tersebut terinspirasi dari rencana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang akan mengusulkan tempe sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke UNESCO.
Menurut Ayep, apabila tempe telah diakui dunia, Sukabumi berpeluang memiliki destinasi dan identitas baru di sektor kuliner.
“Ketika UNESCO menetapkan tempe sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, Sukabumi bisa memiliki daya tarik tambahan sebagai Kota Tempe,” katanya.
Ia berharap, ke depan wisatawan yang berkunjung ke Sukabumi tidak hanya mengenal mochi sebagai ikon kuliner, tetapi juga tempe dengan berbagai inovasi.
“Ini bagian dari kreativitas dan inovasi daerah untuk menarik wisatawan dari luar Kota Sukabumi,” tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, Ayep Zaki juga mendorong para pelaku usaha kopi lokal untuk menghadirkan racikan kopi dengan ciri khas Sukabumi yang unik dan beragam.
“Buatlah kopi dengan karakter Sukabumi, berbeda-beda, namun tetap enak dan berkualitas,” pesannya.
Selain sektor kopi, Ayep turut mengajak pelaku UMKM lain, termasuk Dekranasda Kota Sukabumi, untuk terus berinovasi dengan menciptakan produk unggulan, seperti batik premium, serta memperluas pasar.
Ia juga menekankan pentingnya pelestarian budaya lokal, termasuk seni Sukuraga, agar tidak terputus oleh generasi.“Kita harus melestarikan budaya lokal Kota Sukabumi,” tegasnya.
Sementara itu, Anggota DPRD Kota Sukabumi, Danny Ramdhani, menanggapi wacana Wali Kota terkait penetapan Sukabumi sebagai Kota Tempe.
Menurutnya, gagasan tersebut memiliki tujuan positif untuk memperkenalkan Sukabumi di tingkat regional hingga internasional.
“Namun, jangan hanya menjadi wacana. Semua kebijakan yang menyangkut tata pemerintahan harus dikaji secara matang,” ujar Danny, yang juga menjabat Ketua DPD PKS Kota Sukabumi.
Danny mengingatkan agar kepala daerah tidak menetapkan ikon kota berdasarkan kepentingan pribadi atau latar belakang usaha tertentu.
“Penentuan ikon kota tidak bisa didasarkan pada apa yang dimiliki kepala daerah,” katanya.
Ia menjelaskan, penetapan ikon kota memerlukan proses panjang dengan melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, DPRD, akademisi, budayawan, hingga tokoh masyarakat, serta didukung kajian dan survei yang komprehensif.
Menurut Danny, penentuan ikon kuliner harus melalui penelitian, kajian budaya dan sejarah, identifikasi makanan khas yang unik, partisipasi masyarakat, serta penilaian yang objektif.
“Perlu survei mengenai makanan yang benar-benar digemari masyarakat dan wisatawan agar menjadi kebanggaan bersama,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kajian nilai sejarah dan budaya kuliner, serta memastikan keunikan makanan tersebut hanya ditemukan di Kota Sukabumi.
“Keterlibatan masyarakat, baik melalui diskusi, voting, maupun kompetisi, juga menjadi faktor penting,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, Danny berharap Wali Kota Sukabumi dapat lebih mengakomodasi aspirasi yang berkembang di masyarakat.
“Jangan sampai kebijakan dipaksakan hanya berdasarkan kepentingan tertentu,” pungkasnya.





