BERITAUSUKABUMI.COM-Kematian tragis Raya (3tahun), balita asal Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, yang ditemukan meninggal dengan tubuh dipenuhi cacing, viral dan menyisakan duka mendalam.
Apapun dalih atau alasannya, kematian Raya menunjukkan lemahnya deteksi dini. Jika RT dan RW aktif melakukan pendataan serta pemantauan keluarga rentan, kondisi Raya bisa lebih cepat tertangani.
Tragedi ini menjadi pengingat pentingnya fungsi RT, RW, kader kesehatan, hingga kepala desa sebagai pemimpin tertinggi di tingkat lokal.
RT dan RW: Garda Terdepan Pengawasan Sosial
Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) bukan hanya struktur administratif, tetapi garda terdepan yang seharusnya mengetahui kondisi setiap warganya.
Mereka memiliki peran vital dalam mendeteksi masalah sosial dan kesehatan sebelum berkembang menjadi tragedi.
Kader kesehatan desa melalui posyandu seharusnya rutin memantau tumbuh kembang balita, memberikan edukasi gizi, dan melaporkan kondisi berisiko ke puskesmas.
Tragedi Raya menjadi bukti adanya celah pada sistem ini. Apabila monitoring dilakukan secara ketat, masalah kesehatan serius bisa segera terdeteksi.
Di atas struktur RT, RW, dan kader kesehatan, kepala desa memiliki tanggung jawab besar sebagai pemimpin masyarakat.
“Raya itu sering datang ke posyandu, jadi kita tahu kondisi berat badannya. Dari dulu memang termasuk BGM. Bahkan sudah pernah kita arahkan agar dirujuk ke puskesmas dan berkonsultasi dengan ahli gizi. Tapi jawabannya dari ibunya selalu sama, katanya bapaknya gak mengizinkan,” ujar pengakuan Sisri Maryati, kader posyandu setempat.
Kepala desa bukan hanya administrator, melainkan juga pengayom yang wajib turun ke lapangan, mendengar langsung keluhan warga, dan memastikan sistem pengawasan berjalan.
Tanpa keterlibatan aktif kepala desa, koordinasi antar perangkat desa menjadi lemah. Dalam kasus Raya, kehadiran kepala desa yang lebih intens di lapangan mungkin bisa mempercepat penanganan.
Mencegah tragedi seperti yang dialami Raya membutuhkan sinergi antara RT, RW, kader kesehatan, kepala desa, dan masyarakat.
Administrasi Berbelit-Belit, Hambatan Penanganan Darurat
Tragedi Raya juga memperlihatkan betapa sulitnya mengakses layanan darurat ketika birokrasi mengulur waktu. Relawan Rumah Teduh yang berusaha menyelamatkan Raya sempat terkendala oleh proses administrasi yang berbelit, padahal nyawa anak berada di ujung tanduk.
Dalam situasi darurat, prosedur yang panjang dan tidak fleksibel bisa berakibat fatal. Seharusnya ada mekanisme “jalur cepat” bagi warga miskin atau korban darurat kesehatan agar penanganan segera dilakukan tanpa terhambat tumpukan berkas.
Untuk mencegah kasus serupa, beberapa hal perlu diperkuat: Pendataan berkala warga rentan oleh RT dan RW Kunjungan rumah rutin oleh kader kesehatan.
Pemantauan langsung oleh kepala desa. Reformasi administrasi darurat agar warga cepat mendapat akses kesehatan dan Koordinasi cepat dengan puskesmas dan rumah sakit.
Kematian Raya adalah alarm keras tentang lemahnya sistem pengawasan di tingkat desa. Anak-anak adalah masa depan bangsa, dan tanggung jawab melindungi mereka ada di tangan bersama, terutama perangkat desa hingga kepala desa sebagai pemimpin utama.
Tragedi ini harus menjadi titik balik: desa tidak boleh sekadar menjadi struktur administratif, tetapi benar-benar hadir melindungi warganya.





