BERITAUSUKABUMI.COM-Namanya Yuyun (72 tahun), warga Kelurahan Lembursitu RT 02 RW 12 Kecamatan Lembursitu Kota Sukabumi. Di usia senjanya Yuyun terpaksa harus melewati derita, derita yang seharusnya tidak ia alami jika saja keluarga lebih peduli terhadap Mak Yuyun.
Adalah Siti Nurlaela (41 tahun), Mahasiswi Sekolah Tinggi Kesehatan Sukabumi (STIKESMI) yang memotret bagaimana sisi kelam kehidupan kelamm yang harus dihadapi Mak Yuyun. Mahasiswi program profesi semester ganjil ini menceritakan bagaimana seorang Yuyun sudah tidak berdaya mesti menjalani hidup seorang diri.
“Saya sedang praktek keperawatan di Lembursitu. Kemudian saya menemukan seorang nenek yang terbakar kakinya kerena kecelakaan sewaktu kejang-kejang atau penyakit epilepsinya kambuh di dekat tungku perapian ketika sedang memasak kemudian terjatuh karena tidak sadarkan diri sewaktu terjadi kejang sehingga kaki kiri nya terbakar, sewaktu kejadian nenek tersebut tidak ada yang menolongnya, suaminya sudah meninggal dunia. Punya anak tiga tapi pada bekerja, ada yang kerja di Arab Saudi juga jadi TKW. Cucunya ada tapi jarang ada di rumah, kerja dari pagi hingga menjelang magrib,”ungkap Siti Nurlaela menceritakan kepada BERITAUSUKABUMI.COM, Kamis 29 September 2022.
Kejadiannya terbakarnya kaki, kepala dan tangan Mak Yuyun terjadi dua bulan lalu. Dari awal peristiwa terbakar tungku perapian akibat terjatuh saat hendak memasak, kepala Yuyun nya pun sudah terbakar, sehingga sebagian rambutnya sudah memutih habis. Pun demikian, akibat kejadian itu tangan kanannya terbakar sehingga cacat tidak bisa memegang dengan normal.

Kalimat miris bahkan kata tragis pantas keluar manakala kaki, kepala dan tangan Yuyun yang terbakar tersebut diabaikan oleh pihak keluarga alias tidak ada tindakan medis apalagi perawatan sebagaimana layaknya. Sehingga kata Siti, kaki Yuyun yang terbakar terinfeksi dan bau busuk.
“Keadaan nenek (Yuyun) tersebut sangat menderita dan memprihatinkan dari segi kesehatan fisik, kekurangan makan, dan kekurangan pakaian. Bahkan, di rumahnya tidak ada air untuk minum karena keterbatan fisik untuk bergerak atau beraktifitas. Dia (Yuyun) hidup sendirian dan dibiarkan oleh keluarganya, dan sering mencari kayu bakar untuk memasak di hawu (tungku) karena tidak punya kompor atau gas.
Nenek Yuyun juga diketahui memiliki masalah psikologis. Setiap kali melihat api terutama ketika memasak di tungku, Nenek Yuyun kata Siti selalu suka ingin terjun atau menjatuhkan diri ke api yang ada.
Menurut Siti pula, kondisi pilu yang dialami Nenek Yuyun sebenarnya sudah diketahui dan sempat mendapat tindakan dari pihak terkait termasuk pihak puskesmas setempat. “Saya tahu apa yang dialami Nenek Yuyun, kemudian menyarankan kepada kami untuk mengambil kasus keperawatan keluarga atas Mak Yuyun tersebut,”terang Siti.
Dari penuturan Siti juga, Nenek Yuyun yang seorang warga PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial), sudah mendapat perhatian dari pihak terkait. Tempat tinggal sudah direhab dari program rutilahu. Hanya saja dalam masalah hidup yang dialami Mak Yuyun, perhatian keluarga dan masih kurangnya kepedulian warga sekitar atau tetangga dekat Mak Yuyun terhadap apa yang dialami Mak Yuyun sehari-hari.
“Ini sebenarnya yang kami prihatinkan, perhatian keluarga dan kepedulian tetangga dekat Mak Yuyun. Mudah-mudahan ada pihak yang peduli terhadap kehidupan Mak Yuyun, setidaknya untuk luka bakar dan perawatan medis penyakit epilesi Mak Yuyun bisa diobati dengan intensif,”tandas mahasiswi asal Kampung Babakan Sempur RT 01 RW 14 Des Cipurut Kecamatan Cireunghas Kabupaten Sukabumi ini.
editor : Irwan Kurniawan





