BERITAUSUKABUMI.COM-Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kabupaten Sukabumi dinilai tidak menunjukkan peran strategisnya dalam pembangunan kepemudaan selama beberapa tahun terakhir.
Dalam menghadapi berbagai tantangan seperti tingginya angka pengangguran pemuda, minimnya pelatihan kerja berbasis digital, serta rendahnya partisipasi pemuda dalam pembangunan desa, KNPI tampak tidak aktif memberikan kontribusi yang signifikan.
“Padahal, ruang untuk intervensi terbuka lebar. Pemerintah Kabupaten Sukabumi telah mencanangkan berbagai program prioritas melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021–2026,”kata Wahyu Ginanjar Founder Teras Literasi kepada BERITAUSUKABUMI.COM, Rabu (14/5/2025).
Terlebih dalam visi “Sukabumi Mubarakah” yang religius, produktif, dan berdaya saing menempatkan pemuda sebagai salah satu aktor penting. Dua dari 11 program unggulan bahkan secara eksplisit menyasar kepemudaan, yakni “Pemuda Berkarya, Sukabumi Berdaya” dan “Generasi Mencrang”.
Namun hingga kini, kehadiran KNPI baik sebagai mitra kritis maupun kolaboratif dalam mewujudkan program tersebut belum terlihat nyata.
Perubahan sosial yang cepat, digitalisasi, serta disrupsi ekonomi pasca-pandemi telah menciptakan tantangan kompleks bagi generasi muda, krisis identitas, keresahan ekonomi, hingga keterbatasan akses terhadap kebijakan publik. Dalam situasi ini, peran KNPI sebagai sekadar wadah silaturahmi antar-organisasi kepemudaan (OKP) tidak lagi cukup.
“KNPI harus naik kelas menjadi pusat konsolidasi ide, rumah kaderisasi strategis, dan penggerak program pembangunan berbasis pemuda,” tegas Wahyu Ginanjar, Founder Teras Literasi.
Menjelang pemilihan Ketua DPD KNPI Kabupaten Sukabumi akhir Mei 2025 ini, Wahyu menyampaikan beberapa langkah prioritas yang seharusnya diambil oleh kepengurusan baru yakni antara lain,
1. KNPI perlu menyusun peta jalan pembangunan pemuda yang sinkron dengan RPJMD dan kebutuhan lapangan. Fokus utama meliputi ekonomi kreatif, kewirausahaan muda, pendidikan non-formal, serta penguatan komunitas.
2. Pemuda butuh ruang berpikir dan berdialog. KNPI dapat berperan sebagai forum kajian kebijakan publik, riset sosial, hingga advokasi kebijakan.
3. Diperlukan sinergi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, institusi pendidikan, media, dan organisasi sipil agar program kepemudaan bisa berjalan berkelanjutan.
4. Pemimpin KNPI harus memiliki integritas dan keberanian mengambil sikap strategis. Pemuda butuh figur yang turun ke lapangan, bukan sekadar tampil di baliho.
Pemilihan Ketua DPD KNPI akhir Mei ini bukan sekadar ajang formalitas, melainkan momen menentukan arah baru gerakan pemuda di Sukabumi.
Jika KNPI mampu bertransformasi menjadi jembatan antara rakyat dan pemerintah, maka peran pemuda dalam pembangunan daerah bisa semakin vital.
“Kita tidak kekurangan pemuda cerdas. Yang kita butuhkan adalah ruang, arah, dan kepemimpinan yang mampu menyatukan energi kolektif mereka,” pungkas Wahyu.





