Jaga Tradisi Padepokan Mundingwangi Surade Rutin Gelar Acara Ngabungbang

Makan bareng di Padepokan Mundingwangi, Desa Pasir Ipis dalam acara Ngabungbang/(ist)

beritausukabumi.com-Tiap tanggal 14 Mulud atau 14 Rabiul Awwal, sebagian orang masih percaya dan masih menjaga tradisi Ngabungbang.

Seperti tradisi Ngabungbang yang dilakukan  Padepokan Mundingwangi, Desa Pasir Ipis di Sungai Ciherang, Desa Pasir Ipis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Rabu malam Kamis 14 (18/9/2024).

Kegiatan tahunan ini dihadiri oleh 45 orang dari berbagai daerah seperti Pajampangan, Sukabumi, Bogor, Karawang, Jawa Timur, Jawa Tengah, Gunung Lawu, Bandung, dan wilayah lainnya.

Bacaan Lainnya

Acara yang rutin digelar setiap tahun ini selalu dinanti oleh para pecinta budaya dari berbagai daerah. Acara dimulai sejak pukul 17.00 WIB dan berlangsung hingga dini hari pukul 02.00 WIB.

Setelah buka bersama dan makan bareng, peserta menikmati acara sarasehan serta hiburan seni Sunda yang digelar di Padepokan Mundingwangi, Desa Pasir Ipis.

“Acara Ngabungbang ini adalah ajang silaturahmi dan sekaligus bentuk pelestarian budaya Sunda. Dengan kegiatan ini, kita berharap agar budaya memandikan pusaka tetap terjaga,” ujar A. Soleh, pimpinan Padepokan Mundingwangi.

Pada puncak acara yang dimulai pukul 01.00 WIB, dilakukan prosesi memandikan benda-benda pusaka seperti keris, tombak, pedang, gobang, batu ali, dan lainnya. Prosesi ini dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan simbol dari membersihkan diri secara spiritual.

“Ngabungbang bukan hanya soal ritual, tetapi juga soal menjaga tradisi dan mempererat tali persaudaraan antar daerah,”terang Soleh.

Selain sebagai sarana silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi upaya untuk mengenalkan dan melestarikan seni budaya Sunda kepada generasi muda.

“Ini adalah warisan budaya yang harus dijaga dan diteruskan. Setiap tahun, kami berharap lebih banyak generasi muda yang terlibat dan memahami makna dari kegiatan ini,” tutup A. Soleh.

Asal Mula Tradisi Ngabungbang

Disalin dari wikipedia, Ngabungbang berasal dari kata “nga” dan “bungbang”. “Nga” berarti ngahijikan atau menyatukan. “Bungbang” berarti membuang atau membersihkan.

Bila diartikan keseluruhan, ngabungbang adalah mandi suci dengan niat menyatukan cipta, rasa, dan karsa untuk membuang semua perilaku tidak baik, lahir ataupun batin.

Ngabungbang adalah sebuah tradisi yang dijalankan sejak bertahun-tahun silam. Bagi mereka yang percaya dan meyakini tradisi itu digunakan sebagai ajang olah lelaku batin.

Tradisi ngabungbang sering dilakukan di daerah Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, tepatnya di Pantai Sukawayana. Tempat ini dijadikan ritual ngabungbang karena masyarakat meyakini tempat ini merupakan pantai selatan milik Ratu Laut Kidul.

Ngabungbang Sudah Ada Ratusan Tahun Lalu

Di Sukabumi, ritual Ngabungbang biasa dikenal digelar di Muara Sungai Cisukawayana, Palabuhanratu. Tradisi ini konon sudah ada ratusan tahun lalu sejak zaman Kerajaan Medang Gali (Galih/Galuh) 175-205 M.

Terutama para Raja dan pembesar kerajaan datang daru berbagai penjuru dengan maksud mensucikan diri dan menyempurnakan ilmu kanuragan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan kepada kebesaran Sang Pencipta Alam Semesta.

Konon kabarnya muara Sungai Cisukawayana dianggap mempunya nilai magis yang sangat tinggi, karena muara Sungai Cisukawayana bermuara ke Laut Selatan.

Dimana Laut Selatan adalah wilayah kekuasaan Ratu Laut Kidul dan Sungai Cisukawayana ada di wilayah kekuasaan Kerajaan Medang Gali.

Tradisi Ngabungbang, yaitu terjaga sepanjang malam ketika purnama raya tanggal 14 Mulud, atau 14 Rabiul Awwal. Kegiatannya beragam, ada yang berjalan-jalan kaki ke berbagai tempat, ada yang berkumpul di pesantren, atau ada yang berkunjung ke tempat-tempat yang dinilai punya kemuliaan.

Ngabungbang merupakan tradisi membersihkan diri dari tujuh sifat jahat yang ada pada manusia. Caranya dengan membuangnya ke muara Sukawayana.

Tradisi ini sudah berlangsung sejak masa Prabu Siliwangi, setiap tanggal 14 Maulud tepat tengah malam dan masih dilakukan sampai saat ini.

Hanya saja, kini pengaruh agama Islam sangat kental meskipun sejatinya tradisi ini bukan hanya untuk pemeluk agama Islam saja. Untuk pemeluk Islam, tradisi ini memiliki makna yang lebih dalam karena bertepatan dengan hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Ngabungbang juga dipercaya untuk menguji ilmu kebatinan sekaligus meningkatkannya. Suku Baduy Luar Cisungsang pimpinan Abah Usep, yang letaknya tidak jauh dari Palabuhanratu, memiliki ritual ngabungbang yang berbeda.

Melakukan ngabungbang 12 kali dalam setahun, tanggal 14 setiap bulannya. Tapi, itu tidak boleh dilihat orang, setelah mandi, ilmu yang ditekuni dites sendiri dalam kegelapan malam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *