beritausukabui.com-Founder Desa Wisata Hanjeli, Hidayat Asep atau Abah Asep berbagi sepenggal cerita perjalanan dirinya merintis dan menggembangkan Desa Wisata Hanjeli Kecamatan Waluran Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Tepatnya di tahun 2013, Abah Asep mulai merintis Desa Wisata Edukasi Hanjeli, meski di tahun 2013 ini, Desa Wisata Edukasi Hanjeli yang dirintisnya sempat vakum.
Dengan semangat tinggi dan konsisten dalam perjuangan yang didasari ingin memajukan desa dan warga sekitar. Di tahun 2014, Abah Asep pun kembali memulai merintis pengembangan Desa Wisata Edukasi Hanjeli. Dan, di tahun 2016 lah, Desa Wisata Hanjeli rintisan Abah Asep mulai menapaki kemajuan hingga sampai saat ini.
Abah Asep kerap muncul diberbagai seminar, pelatihan pemberdayaan masyarakat dan edukasi wisata di sejumlah tempat di Sukabumi dan wilayah Jawa Barat.
Sebab usahanya pula yang dinilai sebagai figur anak desa yang inspiratif, Abah Asep pun pernah diundang khusus di acara Talk Show Kick Andy di Metro TV.
Perjalanan di Tahun 2024 ini menjadi sebuah pencapaian sejarah penting perjalanan dirinya dalam mengembangkan Desa Wisata Hanjeli. Di mana di tahun 2024 ini Desa Wisata Hanjeli mendapat tiga penghargaan sekaligus dari level regional, nasional dan internasional.
Penghargaan dari regional atau daerah, Desa Wisata Edukasi Hanjeli mendapatkan penghargaan Sukabumi Award, tingkat nasional dari Kemenparekraf sebagai pemenang Wonderful Indonesia Impact serta Internasional Responsible Tourism Award pemenang Gold Award Upskling Local Community di Sarawak Malaysia.

“Kami lahir bukan dengan secara instan tapi lahir dari sebuah proses perjalanan panjang lebih dari 10 tahun melibatkan sebuah ikatan emosional, tenaga, pikiran, Pendanaan, dan pendewasaan serta perjalanan yang konsisten,”beber Abah Asep kepada beritausukabumi.com, belum lama ini.
Dalam perjalanan merintis Desa Wisata Hanjeli, Abah Asep pun sempat melewati rasanya dicaci, dihina, diremehkan sampai pernah merasakan bagaimana rasanya kejamnya fitnah.
“Saya masih teringat kepada orang-orang yang meremehkan, menyepelekan, menghina, bahkan memfitnah saya. Tapi apa yang sedang kami perjuangkan. Qodarullah Allah atas izin-Nya, kami masih diberi kekuatan untuk terus konsisten hingga benar-benar bisa mewujudkannya dengan baik, sehingga perjuangan kami tetap berjalan hingga saat ini,”terangnya.
Bagi Abah Asep, tujuan pengembangan Desa Wisata Hanjeli bukanlah mengejar penghargaan semata. Penghargaan yang didapat baginya hanyalah penyulut penyemangat saja agar lebih konsisten, agar keberadaan Desa Wisata Hanjeli lebih dirasakan manfaat edukasinya bagi masyarakat.
Konsep edukasi di Desa Wisata Hanjeli yaitu edukasi sebagai alat transfer pengetahuan kepada masyarakat, termasuk kepada para wisatawan yang datang ke Desa Wisata Hanjeli.
Di mana dalam edukasi ini, melibatkan masyarakat mulai dari ibu-ibu, kaum Dhuafa, serta pemuda lokal, yang selanjutnya adalah para mantan Buruh Migran Indonesia (BMI). Malah pengelola Desa Wisata Hanjeli rata-rata adalah para purna Migran termasuk pengaggas utama Hanjeli.

“Agar memiliki nilai ekonomi kami coba mendiversifikasi produk olahan makanan dengan produk turunannya, sehingga Hanjeli memiliki keanekaragaman produk dari hulu hingga hilir dan menjadikan sebuah Edukasi Wisata berbasis pangan lokal pertama di Indonesia yang sesuai dengan kearifan lokal serta menjadi pusat riset, penelitian nasional dan internasional,”ujarnya.
Konsep pentahelix juga menjadi sebuah implementasi penting dalam dalam mengembangkan Desa Wisata Hanjeli yang dirintis Abah Asep.
“Kami melibatkan para akademisi sebagai bagian dari aksererasi pengetahuan,kajian, penelitian serta pengabdian masyarakat. Kolaborasi dengan para pelaku usaha UMKM sebagai produk lokal unggulan, dan partnershif dengan para wirausaha nasiinal juga kami lakukan,”jelasnya.

Yang lebih penting kata Abah Asep, penggerak utamanya adalah Komunitas yaitu warga lokal sendiri yg dimulai dari Buttom Up lewat Kemandirian dan berkelanjutan, kerjasama dengan para pemangku kebijakan agar memiliki policy dan legacy yg menguntungkan untuk sebuah pergerakan yang sustainable, yang terakhir melibatkan para awak media sebagai katalisator informasi secara nasional maupun internasional.
“Terima kasih kepada semua pihak dan stakholder yang selalu mendukung, membersamai dalam perjuangan ini dan memberikan motivasi, peluang serta kesempatan kepada kami,”tandasnya.





