BERITAUSUKABUMI.COM-Udara pagi di Kampung Cisero, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, terasa syahdu. Ratusan orang berkumpul dengan penuh khidmat di halaman Yayasan Pendidikan Pusat Persatuan Olah Raga Silat Kebatinan (Poskab) Sapu Jagat.
Mereka hadir bukan sekadar untuk mengenang, tetapi juga mendoakan dua sosok besar yang telah mewariskan ilmu dan keteladanan: KH. Muhammad Anwarulloh dan Hj. Dedeh Suryani.
Acara Haul dan Tawassul Akbar ke-17 ini menjadi bukti nyata cinta dan penghormatan para murid, keluarga besar, serta masyarakat kepada dua tokoh yang telah memberikan warna dalam kehidupan spiritual dan budaya Sukabumi.
Di antara para tokoh yang hadir, tampak Bupati Sukabumi, H. Asep Japar, yang turut memberikan sambutan penuh makna.
Dalam pesannya, Bupati menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan atas terselenggaranya acara haul ini, yang tak hanya menjadi ruang refleksi spiritual, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga.
“Melalui silaturahmi, kebesaran Sapu Jagat harus dijaga bersama-sama dan harus bermanfaat untuk rakyat,” ujar Bupati Sukabumi.
Beliau juga menekankan bahwa kegiatan seperti ini memiliki nilai strategis dalam membangun Sukabumi yang Mubarakah yakni maju, unggul, berbudaya, dan penuh berkah.
Di hadapan para sesepuh dan hadirin, Bupati mengajak seluruh keluarga besar Poskab Sapu Jagat untuk terus menjaga komunikasi, memperkuat ukhuwah, dan menjaga marwah perguruan sebagaimana yang dicita-citakan oleh Almarhum KH. Muhammad Anwarulloh.
> “Kuatkan silaturahmi dan komunikasi, terus jaga marwah Sapu Jagat. Sehingga cita-cita Almarhum bisa terwujud, terutama dalam menjalankan syariat agama serta mengingat akhirat,” pesannya dengan penuh haru.
Selain Bupati Sukabumi, acara ini juga dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Kepala Badan Kesbangpol, Camat Sukaraja, unsur TNI/Polri, serta para tamu undangan lainnya.
Kebersamaan yang tercipta pada hari itu memperlihatkan betapa warisan spiritual dan budaya yang ditinggalkan KH. Anwarulloh masih hidup dan menjadi pelita bagi banyak orang.
Acara ditutup dengan doa bersama dan lantunan sholawat yang menggema di seluruh penjuru kampung, menjadi pengingat bahwa perjuangan seorang guru besar tak pernah benar-benar usai—ia terus hidup dalam hati dan amal para murid dan penerusnya.





