Andreas: MBG Bukan Sekadar Makan Gratis Tapi Upaya Cetak Generasi Emas 2045

Andreas saat mendampingi Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Wakil Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, dalam kunjungan ke Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jumat (9/10/2026).

BERITAUSUKABUMI.COM – Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu upaya strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak sekaligus mendukung percepatan penurunan stunting di Indonesia.

Menurut Andreas, peningkatan kualitas gizi generasi muda merupakan fondasi penting untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Karena itu, pelaksanaan program MBG perlu mendapat dukungan semua pihak agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

“MBG ini menjadi salah satu penopang untuk perbaikan gizi. Pak Presiden ingin memperbaiki gizi anak-anak Indonesia. Jadi mari kita dukung program presiden dan kompak agar penurunan stunting dapat terwujud bagi kemajuan Bangsa Indonesia,” ujar Andreas.

Pernyataan tersebut disampaikan Andreas saat mendampingi Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Wakil Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, dalam kunjungan ke Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jumat (9/10/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung hasil kolaborasi berbagai pihak dalam upaya penanggulangan stunting di Kabupaten Sukabumi.

Andreas menilai, kehadiran wakil menteri menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Sinergi tersebut diharapkan mampu mendorong intervensi yang lebih efektif dalam menekan angka stunting.

“Kehadiran Ibu Wamen merupakan bentuk perhatian nyata pemerintah pusat terhadap percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sukabumi. Ini juga momentum bagi kami untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan Kabupaten Sukabumi,” katanya.

Andreas mengakui, penanganan stunting bukan persoalan sederhana. Permasalahan ini membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakat.

Menurutnya, berbagai program yang telah dirancang harus dijalankan secara konsisten dan terarah. Tanpa komitmen serta kerja sama yang berkelanjutan, upaya menekan angka stunting akan sulit mencapai hasil maksimal.

“Ketika turun langsung ke lapangan, penanganan stunting memang kompleks. Namun, rumusan dan masalahnya sama. Tinggal konsisten saja terhadap apa yang diprogramkan. Salah satunya penanganannya lewat kolaborasi semua unsur,” ungkapnya.

Ia juga mendorong pola penanganan stunting yang terstruktur dan melibatkan seluruh elemen masyarakat dapat diterapkan di desa-desa lain di Kabupaten Sukabumi.

Andreas menegaskan, pencegahan stunting harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tahap awal hingga penanganan lanjutan. Dengan demikian, intervensi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada persoalan gizi, tetapi juga menyentuh faktor lain yang memengaruhi tumbuh kembang anak.

“Pencegahan stunting ini harus ditangani dari hulu hingga ke hilir. Makanya kolaborasi menjadi kunci,” tegasnya.

Sementara itu, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam upaya penanganan stunting di Desa Gede Pangrango.

Ia menilai, kerja sama lintas sektor menjadi faktor penting untuk memperkuat efektivitas program sekaligus mempercepat penurunan stunting. Model kolaborasi yang telah berjalan di desa tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain.

“Dengan kolaborasi, bisa menjadi lebih baik. Tanpa kolaborasi, sulit penurunan stunting,” ujarnya.

Isyana juga menekankan bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya melalui pemenuhan kebutuhan gizi. Intervensi harus dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan aspek sanitasi, pola asuh anak, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Karena itu, keterlibatan semua pihak perlu terus diperkuat agar berbagai intervensi dapat berjalan berkesinambungan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Ia berharap kolaborasi yang telah terbangun di Desa Gede Pangrango dapat terus dipertahankan dan dikembangkan sebagai bagian dari upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sukabumi.

“Makanya saya mengapresiasi semua pihak yang terlibat. Semoga kolaborasi ini dapat terus dilakukan,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *