BERITAUSUKABUMI.COM – Menjelang perayaan Idulfitri 2026, arus kedatangan penumpang di Terminal Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai menunjukkan peningkatan.
Para perantau yang hendak merayakan Lebaran di kampung halaman pun mulai berdatangan sejak beberapa hari terakhir.
Namun di tengah lonjakan aktivitas tersebut, kondisi Terminal Palabuhanratu justru menuai sorotan. Fasilitas yang menjadi akses utama transportasi di wilayah Sukabumi Selatan itu dinilai kurang terawat dan memprihatinkan.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa (17/3/2026), jalur keluar-masuk bus dipenuhi lubang berukuran cukup besar yang tergenang air keruh.
Situasi ini memaksa kendaraan melaju perlahan, sekaligus meningkatkan risiko bagi penumpang yang turun dari bus. Banyak di antara mereka harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset atau terkena cipratan air dari genangan tersebut.
Tak hanya itu, kondisi bangunan terminal juga terlihat mengalami kerusakan di sejumlah bagian. Plafon yang jebol hingga rangka bangunan yang mulai berkarat memperlihatkan minimnya perawatan dalam beberapa waktu terakhir. Hingga kini, belum tampak adanya upaya perbaikan signifikan dari pihak terkait.
Irman (37), seorang pemudik asal Bandung, mengaku kecewa dengan kondisi terminal yang dinilainya tidak mencerminkan wajah ibu kota kabupaten.
Ia berharap fasilitas publik tersebut bisa memberikan kenyamanan, terutama bagi pemudik yang baru menempuh perjalanan jauh.
“Melihat kondisi seperti ini cukup memprihatinkan, apalagi menjelang Lebaran. Tadi hampir saja terkena cipratan air saat turun dari bus. Seharusnya terminal di pusat pemerintahan lebih layak agar pemudik merasa disambut dengan baik,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Imas (33), pemudik asal Banten yang baru tiba dari Jakarta. Ia menyoroti kondisi atap terminal yang tampak rapuh dan berpotensi membahayakan pengunjung.
“Awalnya saya kira sedang direnovasi, ternyata memang sudah lama rusak. Atapnya terlihat tidak kokoh. Kalau hujan deras atau angin kencang, khawatir bisa roboh. Jalannya juga rusak parah, bahkan kalah dengan terminal kecil di kecamatan,” katanya.
Sementara itu, Ade Supriadi atau Acong, pengurus bus dari Maja Raya Indah (MGI), mengungkapkan bahwa kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama tanpa penanganan serius.
“Kurang lebih sudah tiga tahun seperti ini. Lingkungan jadi terlihat kumuh dan banyak penumpang mengeluh. Bukan hanya penumpang, pihak perusahaan otobus juga merasa kurang nyaman,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat hujan deras turun, area terminal kerap tergenang akibat sistem drainase yang buruk dan kondisi jalan yang rusak.
Acong berharap pemerintah segera melakukan perbaikan sebelum kerusakan semakin parah dan membahayakan pengguna terminal.
“Kalau hujan pasti tergenang. Bangunan juga sudah banyak yang rusak, seperti menunggu waktu saja kalau tidak segera diperbaiki. Sayang kalau terus dibiarkan,” tandasnya.





