Karomah Mama Gentur Ulama Eksentrik dan Kharismatik asal Gentur Cianjur

Ulama eksentrik dan kharismatik asal Gentur Cianjur bernama lengkap KH. Abdul Haq Nuh.
Ulama eksentrik dan kharismatik asal Gentur Cianjur bernama lengkap KH. Abdul Haq Nuh.

beritausukabumi.com-Aang Nuh atau yang lebih tenar disebut Mama Gentur adalah ulama eksentrik dan kharismatik asal Gentur Cianjur bernama lengkap KH. Abdul Haq Nuh. Beliau putra dari Mama Ajengan Syatibi.

Mama Ajengan Syatibi sendiri adalah murid dari Mama Ajengan Kudang Tasik, karena asal beliau juga dari Tasik.

Silsilah nasabnya nyambung ke seorang wali legendaris asal Tasik, Syekh Abdul Muhyi Pamijahan.

Lengkapnya, KH Abdul Haq Nuh bin Mama Ahmad Syathibi (Gentur) bin Mama Haji Muhammad Sa’id (Gentur, Cianjur) bin Mama Haji Abdul Qodir (Ciawi, Tasikmalaya) bin Syekh Nur Hajid (Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya) bin Syekh Nur Katim (Selakopi, Cianjur) bin Syekh Dalem Bojong (Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya) bin Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya).

Banyak ulama besar berguru ke ayahanda dari Aang Nuh ini, diantaranya adalah ulama legendaris asal Sukabumi KH. Ahmad Sanusi Gunungpuyuh.

Aang Nuh, adalah sosok ulama yang sohor dengan “kamonèsan” atau karomah atau prilaku khoariqul ‘adah.

Ada banyak kisah dan saksi yang menceritakannya. Dari mulai kisah menggampar pedagang kecil yang kemudian tak lama menjadi kaya, sholat di atas air, hingga naik mobil melintasi jembatan putus dan masih banyak lagi.

Termasuk cerita dari guruku (Alm) Pak Bibih Cibadak murid aurodnya Aang Nuh.

Beliau seorang pensiunan yang tak fasih baca Al Qur’an, disuruh aurod oleh Aang Nuh di tujuh gunung lima sagara, dan lulus dijalaninya.

Atas kuasa Allah, beliau jadi cepat lancar membaca kitab dari asalnya tak fasih membaca Al Qur’an. Kemudian menjadi pembimbing spiritual banyak kyai.

Menurut pandangan seorang guru mursyid tarekat, Aang Nuh termasuk seorang ‘wali mashur’ [wali yang terbuka]. Salah satu omongan prediktif Aang Nuh yang saya ingat diceritakan sang guru adalah;

Engkè mah euy, bakal loba masjid tonggèrèt. Sorana tararik jerona karosong“. (Kelak, bakal banyak mesjid seperti uir-uir. Suaranya kencang dalamnya kosong.

Aang Nuh wafat masih dalam usia terhitung muda. Tepatnya pada tahun 1990. Allohu yarhamuhu. Lahul faatihah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *