BNPB menyebut lebih dari 99 persen kejadian bencana tahun ini berkaitan dengan faktor hidrometeorologi, baik basah maupun kering.
Pada 21 Oktober 2026, tercatat tambahan tujuh kejadian bencana, terdiri atas enam karhutla dan satu banjir.
Penanganan karhutla diprioritaskan di enam provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau.
Dari total area sasaran penanganan lebih dari 983 hektare, sekitar 502 hektare telah dipadamkan, sedangkan lebih dari 481 hektare masih dalam penanganan.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan area belum padam terluas, yakni lebih dari 321 hektare, disusul Sumatera Selatan sekitar 84 hektare.
Di luar enam provinsi prioritas, karhutla tercatat melanda area lebih dari 1.044 hektare. Sekitar 1.000 hektare di antaranya masih belum padam.
Untuk mempercepat penanganan, sebanyak 71.878 personel dikerahkan di enam provinsi prioritas. BNPB juga menambah armada helikopter untuk pemadaman melalui water bombing dan patroli udara dari 49 menjadi 51 unit, disertai operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah.
Ancaman kebakaran juga meluas ke kawasan pegunungan. Kebakaran di Gunung Sumbing, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dilaporkan membakar sekitar 140 hektare di 14 titik api.
Lebih dari 160 pendaki telah dievakuasi, sementara jalur pendakian dan wisata Gunung Sumbing ditutup sementara untuk mengantisipasi risiko keselamatan.
Kebakaran di kawasan pegunungan lainnya juga menjadi perhatian. Upaya pemadaman di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru telah dilakukan sebanyak 13 kali, sedangkan di kawasan Kawi sebanyak 16 kali.
Dalam penanganan kebakaran di kawasan Bromo, BNPB turut menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya lima relawan yang bertugas, yakni Sukaris, Hendra Roni Wagiyanata, Sefriel Ardiansyah, Wisnu Yudapratama, dan Munawi.
Siklon Champi Berpotensi Picu Cuaca Ekstrem
Selain karhutla, BNPB mengingatkan potensi dampak tidak langsung Siklon Tropis Champi terhadap sejumlah wilayah perairan Indonesia.
Berdasarkan informasi BMKG, hingga 22 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, dampak siklon berpotensi dirasakan di Laut Maluku, Samudra Pasifik utara Maluku, hingga Papua Barat Daya. Kondisi tersebut berpotensi memicu cuaca ekstrem dan peningkatan tinggi gelombang di sejumlah perairan.
Masyarakat, terutama warga pesisir dan nelayan, diminta memantau informasi cuaca serta tidak memaksakan diri melaut ketika kondisi perairan tidak aman.
BNPB juga mengimbau warga di daerah rawan banjir dan longsor untuk meningkatkan kesiapsiagaan, menjaga saluran drainase, menyiapkan kebutuhan darurat, serta mengikuti arahan petugas apabila diperlukan evakuasi.
Pemulihan Pascagempa NTT Berlanjut
Di tengah penanganan bencana yang masih berlangsung, BNPB juga melanjutkan upaya pemulihan pascagempa di Nusa Tenggara Timur.
Hasil verifikasi mencatat sebanyak 5.964 rumah rusak berat, 15.346 rumah rusak sedang, dan 30.423 rumah rusak ringan.
Pemerintah daerah didorong segera menetapkan calon penerima bantuan stimulan serta melengkapi dokumen persyaratan. Penyusunan kajian kebutuhan pascabencana dan rencana rehabilitasi serta rekonstruksi juga perlu dipercepat sebagai dasar pemulihan.
BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak menyalakan api sembarangan di kawasan hutan dan pegunungan, memastikan api unggun padam sebelum meninggalkan lokasi, serta segera melaporkan jika menemukan asap atau titik api.
Masyarakat juga diminta terus mengikuti informasi resmi BNPB, BPBD, dan BMKG untuk mengantisipasi perkembangan ancaman bencana di wilayah masing-masing.





