Warga Jampang Tengah-Sukabumi Hentikan Truk Tambang, Protes Jalan Rusak dan Macet

Warga Sukabumi blokir jalan Jampang Tengah–Cikembar protes truk tambang penyebab macet, bising, dan jalan rusak.
Warga Sukabumi blokir jalan Jampang Tengah–Cikembar protes truk tambang penyebab macet, bising, dan jalan rusak. (aponnanan)

BERITAUSUKABUMI.COM-Gelombang protes warga pecah di ruas Jalan Provinsi Jampang Tengah–Cikembar, Kabupaten Sukabumi. Warga nekat menghentikan konvoi truk tambang yang melintas sejak Jumat (22/8/2025) malam hingga Sabtu dini hari.

Aksi spontan ini dipicu keresahan warga terhadap aktivitas truk pengangkut batu tambang yang dianggap menjadi biang kemacetan, kebisingan, dan kerusakan jalan.

“Kendaraan besar itu lewat seenaknya, kadang malam, kadang pagi. Jalan jadi sempit, macet, dan bising. Warga sudah lama merasa terganggu,” ujar Apit, Kepala Dusun Pal Lima Belas, Desa Cikembar, Sabtu (23/8/2025).

Bacaan Lainnya

Apit menuturkan, dalam sebulan terakhir jalur tersebut semakin padat oleh lalu lalang truk tambang. Kondisi ini bertepatan dengan jam berangkat sekolah dan aktivitas warga, sehingga menambah keresahan.

“Sekarang jalan sering macet. Anak-anak sekolah yang jalan kaki jadi takut karena banyak truk besar melintas,” ungkapnya.

Setelah aksi blokade, warga bersama perangkat desa dan pihak terkait akhirnya duduk bersama mencari solusi. Dari hasil musyawarah disepakati, truk tambang hanya boleh beroperasi mulai pukul 09.00 pagi hingga 05.00 esok hari, dengan ketentuan dilarang berjalan beriringan.

“Warga bukan mau ribut, tapi sudah lelah menunggu respons. Alhamdulillah sekarang ada kesepakatan soal jam operasional, jadi tidak mengganggu jam anak sekolah,” tambah Apit.

Senada dengan Apit, Sunaryo, warga setempat, menegaskan aksi turun ke jalan terpaksa dilakukan karena protes mereka sebelumnya tidak pernah ditanggapi.

“Kami sudah berulang kali mengadu, tapi tak ada tindak lanjut. Akhirnya warga bertindak. Kami hanya minta aturan waktu jalan, jangan konvoi, dan jangan ngebut,” katanya.

Menurutnya, jalan di kawasan tersebut sebenarnya tidak layak dilalui truk tambang dengan muatan berat. Akibatnya, selain macet, kondisi bahu jalan dan drainase ikut rusak.

“Beban maksimal jalan di sini cuma 8 ton, sedangkan truk tambang bisa mengangkut puluhan ton. Wajar saja kalau jalan cepat rusak,” tegasnya.

Sunaryo menambahkan, malam itu sekitar 10 truk tambang yang melintas berhasil dihentikan warga. Truk-truk tersebut diduga mengangkut batu ars sebagai bahan baku semen dengan tujuan Jakarta.

“Total ada sekitar 10 kendaraan yang diberhentikan. Jalan sempit, jadi kalau berpapasan langsung macet. Semuanya truk tambang batu ars,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *